Melalui jalan kecil meliuk-meliuk, saya menyusuri Kampung Kaluppini di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan. Jalan beton dengan jurang menganga di satu sisi. “Di bawah sana kebunnya,” kata Karo, pemuda yang mengantar saya mencari kebun jewawut (Setaria italica).

Hamparan jewawut itu tidak luas, hanya ada beberapa meter persegi, tumbuh dekat jagung. “Sebentar lagi akan panen. Mungkin minggu depan – sekitar 10 hari,” kata Dullah,  pemilik lahan yang berjaga dari hama burung.

Di Enrekang, jewawut dikenal dengan ba’tang. Selintas ba’tang mirip rumput, dengan tinggi tak sampai dua meter. Bulir ba’tang keluar dari pucuk, bergerombol seperti bunga lavender.  Di lahan itu, warna bulir ba’tang ada hitam dan orange. Jika sudah dikelupas berwarna kuning.

Menanam ba’tang, tak begitu sulit, hanya perlu menyiapkan lahan dan menaburkan benih. Usia panen 75 hari dan tak memerlukan perawatan berlebihan. Tak perlu ada irigasi seperti padi. Bahkan tak perlu pupuk.  Biji ba’tang, sangat kecil, berbentuk bulat dan padat.

Ba’tang bahkan tak memiliki hama pengganggu. “Hama satu-satunya itu burung. Kalau bulir sudah keluar harus dijaga, supaya burung tidak makan.”

Di beberapa tempat, ba’tang menjadi pakan burung. Ada di tempat-tempat penghobi burung, untuk tekukur atau parkit. Di masyarakat Enrekang, sebelum beras meluas dekade 1960-an, ba’tang dan jagung adalah makanan pokok warga.

“Ooo iya, dulu orang tua makanan utama itu ba’tang. Jadi di makan seperti nasi atau bubur, bisa juga jadi sokko  (ketan). Itu dimakan dengan lauk, sayur dan ikan,” kata Abdul Halim, pria 78 tahun, tokoh adat Kaluppini.

Masyarakat Enrekang mengenal beberapa ba’tang seperti ba’tang panasa, putti, doi, rui, baraka, beuwa, dan minya.’ Saat ini, ba’tang yang ditanam warga jenis beuwa karena lebih mudah. Untuk baraka, mulai hilang.

Masyarakat cenderung meninggalkan ba’tang baraka, karena memiliki beberapa pantangan seperti saat menanam dan hasil tidak mencapai 40 basse (40 ikat, satu ikat sekitar empat sampai lima liter), petani akan mendapatkan malapetaka. Jadi, harus ada ritual permintaan maaf.

Di Sulsel, ba’tang atau jewawut dikenal hampir di seluruh daerah. Tumbuh bak tanaman liar. Hanya Enrekang yang menanam untuk konsumsi.

Peneliti Teknologi Pasca Panen Balai Penelitian Serealia Indonesia, Suarni mengatakan, jewawut adalah tanaman sereal yang bisa tumbuh di berbagai tempat. Lahan kering dan gersang. “Jadi untuk mengembangkan jewawut tidak perlu tanah subur. Ditanam dekat pantai dengan kadar keasinan tanah tinggi dan lahan kering dapat tumbuh.”

Suarni membandingkan dengan padi, yang harus memiliki pengairan dan unsur hara tanah baik. “Lebih ribet menanam padi. Namun,  padi tanaman pasar yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” katanya.

Secara kandungan nutrisi, katanya, jewawut memiliki kadar protein sampai 13%, padi hanya 8%-10%. Jewawut memiliki antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, untuk mencegah pembentukan sel kanker. Kalsium pun cukup tinggi dibanding padi, sorgum ataupun jagung. “Ini tanaman sehat.”

Di Enrekang, menemukan ba’tang mulai sulit. Beberapa toko hanya menjual sebagai penganan baje (wajik), dibungkus kecil menggunakan daun jagung. Untuk jenis pulut, ba’tan dinikmati dengan lemang.

Saat ini, ba’tang cukup mahal Rp28.000 per liter, dibandingkan beras Rp8.000 per liter. Secara pengolahan ba’tang dan padi sama saja. Membuka kulit bisa tumbuk lesung atau mesin penggiling.

Cara memasak ba’tang pun sama. Tekstur tak jauh beda, halus dan lengket. Namun, menurut pernyataan beberapa penduduk, mengkonsumsi ba’tan rutin cepat bosan.

Apa yang membuat warga meninggalkan ba’tang? Perubahaan pola pikir dan desakan peradaban baru. “Ba’tang direkonstruksi sebagai makanan zaman dulu. Makanan burung, udik. Muncullah beras secara besar-besaran menjadi makanan peradaban,” kata Iwan Sumantri, Antropolog Universitas Hasanuddin.

Padahal, padi dan beberapa biji-bijian lama dikenal di Sulsel. Penemuan di Leang Petta Kere, Maros, menunjukkan, Oryza zatyva sekitar 3.800 tahun lalu. Namun, belum dikonsumsi besar-besaran. “Orang-orang di Sulsel, di beberapa daerah mengkonsumsi tanaman dan biji-bijian beraneka ragam, termasuk ba’tang, umbi-umbian, jagung dan sagu,” kata Rustan, Arkeolog Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Sulsel.

“Dalam beberapa temuan gerabah dan tembikar di masa Neolitik pun, campurannya ditemukan beberapa jenis sereal dan biji-bijian,” kata Rustan.

 

Lestarikan ba’tang  lewat ritual  

Di Kampung Tondon, Ranga dan Kaluppini, ritual Maccera Manurung–syukuran panen dan penghormatan kepada leluhur–dilakukan setiap delapan tahun sekali. Penduduk mengunjungi situs megalitik di tempat tertentu dan makan bersama. Dalam ritual ini, salah satu makanan wajib dan syarat utama adalah ba’tang.

Secara budaya, kata Nani Somba, peneliti dari Balai Arkelogi Makassar yang pernah melakukan penelitian mengenai Maccera Manurung mengatakan, menghadirkan ba’tang sebagai salah satu pangan utama dalam ritual menunjukkan budidaya tanaman telah dilakukan sejak lama.

Ba’tang merupakan tanaman yang dibawa gelombang migrasi Austronesia sekitar 3.000 tahun lalu. Masuk melalui jalur migrasi masyarakat Tiongkok yang mencapai Sulawesi – teori ini disebut migrasi kereta cepat Out of Taiwan.

Budidaya ba’tang, cukup unik. Bibit ba’tang siap ditabur, pada malam atau subuh hari akan diletakkkan di posi bola – tiang tengah rumah oleh perempuan, beserta pinang, sirih, dan kapur. Pada pagi hari, laki-laki membawa ke  ladang dan menaburkan.

Ketika biji ba’tang mulai bertumbuh, perempuan yang mengalami fase menstruasi tak boleh melewati atau mendekati tanaman itu, karena akan membuat mati dan gagal panen. “Dalam literatur lain, perempuan yang sedang menstruasi memiliki tingkat keasaman dan metobolisme tubuh tidak teratur. Itu mempengaruhi tanaman,” kata Nani. “Sisi lain tanaman itu oleh masyarakat Enrekang memiliki nilai spiritual.”

Korelasi lain, kata Nani, ba’tang dalam upacara sakral Maccera Manurung, menunjukkan sebagai makanan leluhur sangat penting.

“Jika pun ba’tang tidak ditanam luas sekarang ini, tetapi beberapa orang masih menanam. Untuk dimakan sendiri, atau keperluan adat,” kata Ahmad Paguling, tokoh adat Kaluppini.

Menurut Paguling, jika ba’tang hilang, salah satu unsur adat di Kaluppini akan ikut lenyap.

sumber: klik disini

Share Button