“Pengelolaan satwaliar tidak boleh hanya berfokus kepada jenis satwaliar tertentu, tapi juga harus mencakup pengelolaan habitat satwa dan ekosistemnya,” kata Ahmad Gadang Pamungkas, S.Hut, M.Si, Kepala Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) dalam laporannya mengawali Seminar Hasil-hasil Penelitian “Pengelolaan Satwaliar sebagai Upaya Pelestarian Sumber Daya Alam’’. Seminar yang diselenggarakan di Mirror ballroom Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Kamis (5/11/15) itu dihadiri oleh sekitar 100 peserta baik dari peneliti, akademisi, pengambil kebijakan, pihak swasta dan LSM di Kalimantan.

Menurut Dr. Dwi Sudarto, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, dalam sambutannya menyatakan bahwa berbagai upaya pengelolaan dan pelestarian khususnya satwaliar secara arif dan bijaksana sangat diperlukan. Dengan dukungan berbagai penelitian yang telah dilakukan dan menggunakan hasil riset secara holistik, maka diharapkan pengelolaan satwaliar beserta habitat dan ekosistemnya dapat dilaksanakan dengan lebih baik. “Peristiwa kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah di Indonesia mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi kita, baik secara ekonomi, sosial dan hilangnya berbagai keanekaragaman hayati yang ada”, lanjut Dwi.

Sesi pertama seminar diawali dengan pemaparan narasumber utama, yaitu Prof. Dr. Ir. Hadi S. Alikodra, Guru Besar Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, Institut Pertanian Bogor dan Dr. Ir. Chandradewana Boer, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Presentasi dan diskusi dipandu oleh Prof. Ris. Dr. Ir. M. Bismark, membahas topik Status Keanekaragaman dan Pemanfaatan Satwaliar dan Strategi Pengelolaan dan Potensi Pemanfaatan Satwaliar di Kalimantan.

Dalam penyampaiannya, Prof. Alikodra menyatakan bahwa strategi konservasi keanekaragaman hayati, khususnya satwaliar perlu ditingkatkan dan diimplementasikan secara optimal. Kegiatan konservasi tidak hanya perlindungan dan pelestarian saja, namun, pemanfaatan secara bijak perlu ditingkatkan. “Tiga skenario pemanfaatan dalam mendukung manajemen konservasi adalah ekowisata, bioprospecting, dan perdagangan karbon”, ungkapnya.

Di sisi lain Dr. Chandra lebih menekankan bahwa pola konservasi keanekaragaman satwaliar perlu didukung dengan bantuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan seperti teknologi konservasi eksitu dengan penangkaran, konservasi insitu melalui pembinaan habitat dan populasi, teknologi rekayasa genetika, teknologi kultur jaringan, teknologi penangkaran, dan teknologi pengelolaan kawasan.

Sesi berikutnya Dr. Yaya Rayadin menyampaikan topik konservasi orangutan multi-fungsi landskap di Kalimantan Timur.  Sebaran orangutan di luar kawasan konservasi diantaranya berada di areal perkebunan kelapa sawit, pertambangan batubara, hutan tanaman industri dan permukiman. “Upaya pelestarian orangutan di areal perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan merancang dan menetapkan sebagian kawasan menjadi areal konservasi, selain itu dalam kondisi tertentu orangutan perlu direlokasi ke habitat yang lebih baik”, kata Yaya.

Relokasi orangutan tersebut dilakukan oleh satgas orangutan dengan Standard Operational Procedure (SOP) yang tepat dan dapat dimodifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan, sehingga relokasi dapat berjalan dengan baik. Hal ini terungkap dari presentasi yang disampaikan oleh drh. Amir Ma’ruf berjudul Standard Operational Procedure (SOP) translokasi orangutan.

Lebih lanjut hasil penelitian Mukhlisi, S.Hut, M.Si dkk. telah menghasilkan rumusan kriteria pembangunan koridor orangutan di daerah penyangga kawasan konservasi. “Habitat orangutan yang terfragmentasi perlu dikembalikan konektivitas lanskapnya dengan membangun koridor orangutan. Kriteria pembangunan koridor orangutan disusun untuk mengetahui kelayakan kantong habitat”, ungkap Mukhlisi.  Sesi yang dimoderatori Dr. Ir. Garsetiasih, M.P. tersebut diakhiri dengan penyampaian Dr. Ishak Yassir terkait peran satwaliar sebagai agen pemencar biji dan pengendali populasi serangga di lahan pasca tambang batubara).

Sesi terakhir yang dipandu oleh Ir. Niel Makinuddin, MA dipresentasikan makalah terkait Konservasi Bekantan, pengelolaan Labi-labi (Amyda cartilaginea), dan pemanfaatan satwaliar sebagai obyek pendidikan konservasi yang disampaikan oleh Tri Atmoko, Teguh Muslim, dan Ike Mediawati.

Dalam sesi ini disampaikan bahwa satwaliar mempunyai peran, fungsi dan manfaat yang penting baik secara ekologis maupun ekonomis bagi kehidupan manusia. “Bekantan mempunyai potensi ekonomi yang tinggi melalui pengembangan objek ekowisata,” tegas Tri Atmoko. Selain itu pemanfaatan secara lestari jenis labi-labi (Amyda cartilaginea) dapat dilakukan melalui pembangunan penangkaran, terang Teguh.

Dalam rangka meningkatkan kerjasama terkait penelitian dan pengembangan, Balitek KSDA, pada kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan MoU kerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup Kota Balikpapan.  Kerjasama terkait dengan penelitian dan pengembangan Kebun Raya Balikpapan dan Hutan Lindung Sungai Wain serta pengembangan Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup Balikpapan.  Penandatangan MoU dilakukan oleh  Bpk. Ahmad Gadang Pamungkas selaku Kepala Balitek KSDA, sedangkan BLH Kota Balikpapan diwakili oleh Ibu Anytha Eva Maria, selaku Kepala UPTD Kebun Raya Balikpapan.

Dengan penuh bangga, pada seminar ini Balitek KSDA juga melakukan launching buku IPTEK Kehutanan. Buku pertama berjudul “Keanekaragaman Hutan Rintis Wartono Kadri – Hutan Tropis Kalimantan di KHDTK Samboja” yang ditulis oleh Tri Atmoko, Ishak Yassir, Bina Swasta Sitepu, Mukhlisi, Septina Asih Widuri, Teguh Muslim, Ike Mediawati dan Amir Ma’ruf. Buku ini menampilkan karya foto yang atraktif hasil “jepretan” peneliti, teknisi dan karyawan Balitek KSDA yang mengabadikan keanekaragaman hayati di Hutan Rintis Wartono Kadri. Buku kedua berjudul “Jenis-jenis Pohon Endemik Kalimantan” karya terakhir Dr. Kade Sidiyasa sebelum tutup usia. Buku ini disajikan dalam bentuk chek list dan dilampiri beberapa foto jenis pohon endemik Kalimantan.***ADS

Share Button