Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) pada awalnya adalah Wanariset 1 Samboja yang ditetapkan tahun 1979 melalui SK Menteri Pertanian No. 723/Kpts/Um/II/1979 yang dikelola Lembaga Penelitian Hutan Bogor. Pada tahun 1985 pengelolaan dirubah menjadi Stasiun Penelitian berada dibawah Balai Penelitian Kehutanan Samarinda.

Tahun 2002 Stasiun Penelitian berubah menjadi Loka Penelitian dan Pengembangan Satwa Primata (LP2SP) berdasar SK Menhut No. 6175/Kpts-II/2002, merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) setingkat eselon IV yang berada dibawah Badan Litbang Kehutanan.  Fokus kegiatan organisasi pada saat Loka Penelitian dan Pengembangan Satwa Primata berfokus pada penelitian konservasi meliputi flora dan fauna dengan ruang lingkup penelitian meliputi Pulau Kalimantan.

Pada tahun 2006 melalui Peraturan Menteri Kehutanan No. P.30/Menhut-II/2006 LP2SP berubah menjadi Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja (BPTP).  Pengembangan organisasi menjadi setingkat eselon III dengan fokus penelitian yang menitik beratkan pada teknologi perbenihan hutan alam dengan ruang lingkup meliputi Pulau Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

Tahun 2011 BPTP Samboja berubah menjadi Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) berdasar Peraturan Menteri Kehutanan No. P.32/Menhut-II/2011.  Satker setingkat Eselon III ini merupakan salah satu UPT yang secara khusus menangani kegiatan penelitian teknologi konservasi sumber daya alam yang berada dibawah tanggungjawab Badan Litbang Kehutanan dengan wilayah kerja seluruh Indonesia.

Data Perkembangan Awal berdirinya Instansi Balitek KSDA

WANARISET 1 SAMBOJA

Wanariset 1 Samboja dikelola Lembaga Penelitian Hutan Bogor.  Pada saat itu lokasi di samboja KM 38 sering disebut hutan penelitian bogor.

Pada tahun 1985 pengelolaan dirubah menjadi stasiun penelitian berada dibawah Balai Penelitian Kehutanan Samarinda. Pola kerjasama kolaboratif banyak dilaksanakan yakni kerjasama dengan Tropenbos, PT. Inhutani I, APHI.  Fokus kegiatan yang dilaksanakan antara lain rehabilitasi dan konservasi lahan bekas terbakar. Sejalan dengan waktu kerjasama dilakukan juga dengan ITTO yang membuat fokus kegiatan di KM 7 dan dengan PT. KEM yang mengadakan kegiatan rehabilitasi lahan.

Beberapa tokoh yang terlibat pada masa wanariset I antara lain Willy Smith merupakan team leader tropenbos, sementara yang pernah menduduki jabatan kepala stasiun antara lain Daud Leppe dan Dr. Ir. Kade Sidiyasa (alm).

Program yang menonjol pada wanariset 1 ini antara lain program stek pucuk yang berhasil menerbitkan regulasi kewajiban pembuatan stek pucuk pada setiap HPH. Program penelitian lainnya antara lain pertumbuhan tanaman dan penelitian mikorisa.

Kegiatan konservasi fauna mulai berjalan dilakukan oleh tropenbos dan bekerjasama dengan KSDA dalah hal reintroduksi orangutan.

Untuk kegiatan penelitian basic science dibangun herbarium samboja yang di danai secara keseluruhan oleh pihak luar negeri melalui tropenbos, dalam perkembangannya herbarium mendapat pengesahan dari Menteri Kehutanan pada tahun 1992 dan terakreditasi dan terdaftar di index herbariorum dengan akronim WAN.

Sarana dan prasana mulai dibangun untuk mendukung pelaksanaan kegiatan.  Beberapa sarana tersebut seperti mess pegawai merupakan peran serta/bantuan dari APHI dan PT. Inhutani I, untuk rumah dinas dan kantor ada yang dibangun dari dana APBN dan secara mandiri dari tropenbos.

LOKA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SATWA PRIMATA (LP2SP)

Loka Litbang Satwa Primata merupakan Satuan Kerja Eselon IV yang dikepalai oleh Kepala Loka.  Karena kegiatan sebelumnya merupakan stasiun penelitian dari BPK Samarinda, maka kegiatan pada tahun 2002 masih sedikit, dan pegawai yang definitif untuk sementara baru 3 orang yakni Ir. Dodi Setiabudi selaku Kepala loka, dibantu oleh Drinus Arruan, S.Hut dan Idrus, Amd, sedangkan pegawai yang lainnya masih berstatus pegawai dari BPK Samarinda.  Kegiatan kerjasama yang masih berjalan pada masa awal LP2SP antara lain  kerjasama dengan PT. KEM dalam hal rehabilitasi lahan.

Jumlah pegawai sejalan perkembangannya yang berasal dari mutasi dari BPK Samarinda dan penerimaan pegawai baru.

Tahun 2004 pegawai LP2SP sebanyak 44 orang yang terdiri dari 1 orang Kepala Loka,  5 Orang Staf Non Struktural, 3 orang peneliti, 11 orang calon peneliti, 3 orang teknisi litkayasa, 7 orang calon teknisi litkayasa dan 13 orang honorer.

Tahun 2006 pegawai LP2SP sebanyak 47 orang yang terdiri dari 1 orang Kepala Loka, 6 Orang Staf Non Struktural, 3 orang peneliti, 13 orang calon peneliti, 5 orang teknisi litkayasa, 6 orang calon teknisi litkayasa dan 13 orang honorer.

Anggaran yang dilaksanakan pada awal berdiri LP2SP ini berasal bari berbagai anggaran antara lain dari APBN, Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH), Diks DR dan Dana Rutin.  Beberapa orang yang pernah menjadi pemimpin proyek DIKs DR antara lain  Drinus Arruan S. Hut dan drh. Amir Ma’ruf. Untuk proyek lainnya yang pernah menjadi pemimpin proyeknya antara lain Ir. Massofian Noor (alm), Wawan Gunawan, S.Hut, Msi., Usup Kasri, Agus Akhmadi (alm).

Perkembangan anggaran yang digunakan ketika LP2SP pada tahun 2004 telah menggunakan dana sebesar Rp. 1.498.665.041,-, tahun 2005 sebesar Rp. 3.328.203.313,- dan tahun 2006 sebesar Rp. 3.718.339.080,-.

Sarana dan prasarana yang digunakan merupakan bangunan yang telah dibangun pada masa Stasiun Penelitian Wanariset 1 meliputi Kantor Utama, Mess, Laboratorium, Rumah Kaca, Aula, Gedung Herbarium, Perpustakaan di lantai 3 Herbarium, dan kendaraan antara lain Hiline, Mitshubishi Pick up, Taff, Suttle Bus, dan 6 buah sepeda motor.  Kegiatan pengadaan kendaraan Toyota Innova, pembangunan sarana perumahan yakni rumah contoh sebanyak 4 buah rumah, dibangun pada saat LP2SP. Kawasan hutan yakni KDHTK Hutan Penelitian Samboja di serahkan ke LP2SP sesuai Keputusan Menteri Kehutanan No. SK 201/MENHUT-II/2004.

LP2SP menjalankan tugas pokok dan fungsi sebagai institusi riset di bidang konservasi biodiversitas, dan penelitian yang terkait dengan core research tersebut adalah penelitian teknologi konservasi biodiversitas flora & fauna langka sebanyak 4 judul dan model pengelolaan taman nasional sebanyak 2 judul.

BALAI PENELITIAN TEKNOLOGI PERBENIHAN SAMBOJA (BPTP Samboja)

Pada tahun 2007, BPTP Samboja memiliki pegawai sebanyak 49 orang yang terdiri dari Struktural 4 orang, Non Struktural 7 orang, Peneliti 15 orang, Teknisi Litkayasa 10 orang, dan Honorer 12 orang.

Pegawai sampai tahun 2010 total berjumlah 76 orang yang terdiri dari Struktural 4 orang, Non Struktural 30 orang, Fungsional Peneliti 8 orang, Calon Peneliti 10 orang, Teknisi Litkayasa 15 orang, Calon Teknisi Litkayasa 1 orang, Calon Pustakawan 1 orang, Calon Pranata Humas 1 orang, Honorer 1 orang dan Kontrak 6 orang.

Anggaran  yang digunakan pada saat BPTP Samboja adalah Dana APBN, dan memperoleh dana Hibah Menristek tahun 2009 sebesar Rp. 592.300.000,- dan tahun 2010 sebesar Rp. 325.000.000,- yang digunakan sebagai dana operasional kegiatan penelitian. Untuk dana APBN pada tahun 2010 sebesar Rp. 6.520.726.292,-

Pengembangan sarana prasarana yang dilakukan antara lain renovasi Rumah Dinas, Mess, Laboratorium, Aula dan renovasi gedung Kantor Utama.  Sedangkan sarana untuk menunjang mobilitas melakukan pengadaan kendaraan yakni Ford Ranger, Ford Everest, Suzuki APV, Daihatsu Terios.

BPTP Samboja menjalankan tugas pokok dan fungsi sebagai institusi riset di bidang perbenihan tanaman hutan.  Beberapa penelitan yang berkaitan dengan tenologi perbenihan antara lain eksplorasi dan karakteristik morfologi benih tumbuhan hutan, teknik penanganan benih macaranga sp, dan penyimpanan benih shorea sp dalam bentuk semai.

BALAI PENELITIAN TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM (BALITEK KSDA)

Tahun 2011 jumlah pegawai sebanyak 76 Pegawai terdiri dari Struktural 4 orang, Non Struktural 30 orang, Peneliti 10 orang, Calon Teknisi Litkayasa 1 orang, Teknisi Litkayasa 15 orang, Calon Pranata Humas 1 orang, Calon Pustakawan 1 orang, Honorer 1 orang, dan Kontrak 6 orang.

Tahun 2012 jumlah pegawai sebanyak 76 Pegawai terdiri dari Struktural 4 orang, Non Struktural 30 orang, Peneliti 17 orang, Calon Peneliti 8 orang, Teknisi Litkayasa 14 orang, Calon Pranata Humas 1 orang, Calon Pustakawan 1 orang, Honorer 1 orang, dan kontrak 8 orang.

Pada masa Balitek KSDA secara keseluruhan menggunakan Dana APBN. Tahun 2012 sebesar Rp. 7.852.716.082 dan tahun 2011 sebesar Rp. 7.799.657.407,-.

Sarana bangunan yang ada meliputi Kantor Utama, 20 buah Rumah Dinas, Laboratorium, Aula, Gedung Herbarium, Perpustakaan di lantai 2 laboratorium, sedangkan sarana mobilitas antara lain Ford Ranger, Ford Everest, Suzuki APV, Daihatsu Terios, Hiline, Hiline, Mitshubishi Pick up, Taff, Suttle Bus, kendaraan bermotor roda 2. Balitek KSDA memiliki kendaraan dinas roda 4 sebanyak 9 unit dan roda 2 sebanyak 5 unit. Adapun kondisi kendaraan tersebut (baik roda-2 maupun roda-4) semuanya dalam kondisi baik.

Koleksi perpustakaan Balitek KSDA dari 270 pustaka pada tahun 2009 menjadi 459 buah pustaka pada tahun 2012 yang terdiri dari buku, jurnal dan majalah.

Balitek KSDA mempunyai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) untuk hutan penelitian dengan luas 3.504 Ha berdasarkan SK. Menteri Kehutanan Nomor: 201/Menhut-II/2004 tanggal 10 Juni 2004. Dari 3.504 Ha Luas KHDTK Samboja ternyata 504 Ha masih merupakan hutan alam yang mempunyai potensi keragaman biodiversitas hutan hujan tropis yang sangat tinggi, sedangkan sisanya 3.000 Ha merupakan hutan sekunder yang ditutupi semak belukar dan alang-alang.

Perkembangan Penelitian

Balitek KSDA pada kurun waktu 5 tahun (2010-2014) yang tecantum dalam renstra akan melaksanakan kegiatan berdasarkan core research dengan mengacu pada 9 program Badan Litbang Kehutanan khususnya yang terkait dengan Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi serta Perubahan Iklim, yaitu program ke-2 Litbang Hutan Alam, ke-4 Biodiversitas, program ke-6  Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan program ke-7 Perubahan Iklim.   Dalam kaitan tersebut, Balitek KSDA diamanatkan untuk melaksanakan 7 RPI  yaitu RPI 3 Pengelolaan Hutan Lahan Kering, RPI 4 Pengelolaan Hutan Man­grove dan Ekosistem Pantai, RPI 5 Pengelolaan Hutan Rawa Gambut, RPI 12 Konservasi Flora, Fauna, dan Mikro Organisme, RPI 13 Model Pengelolaan Kawasan Konservasi Berbasis Eko­sistem, RPI 15 Pengelolaan Sumberdaya Lahan dan Air Pendukung Pengelolaan DAS dan RPI 18 Adaptasi Bioekologi dan Sosial Ekonomi Budaya ter­hadap Perubahan Iklim. Khusus untuk tahun 2012, Balitek KSDA melaksanakan 6 RPI yaitu RPI 3, 4, 12, 13, 15 dan RPI 18.

Share Button