Seminar Balitek KSDA yang diselenggarakan pada tanggal 27 November 2013 di Hotel Grand Senyiur Balikpapan dihadiri oleh lebih dari 125 orang peserta seminar yang berasal dari beberapa pihak stageholder terkait yakni akademisi, institusi pemerintah terkait, dan NGO. Tema seminar tahun 2013 adalah Reklamasi Lahan Pasca Tambang : Aspek Kebijakan, Konservasi dan Teknologi.

Seminar dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Produktivitas Hutan, Dr. Bambang Tri Hartono, M.F. dengan pembicara kunci, Dr. Ir. Yadi Setiadi, M.Sc (IPB-Bogor). Yang dilanjutkan dengan presentasi makalah pada tiga sesi berikutnya.

Di sesi pertama, Ismail Akbar, S.Hut dari BPDAS Sungai Mahakam Berau memaparkan tentang Kebijakan Reklamasi Areal Bekas Tambang dalam Kawasan Hutan yang dilanjutkan pemaparan Reklamasi Lahan Pasca Tambang Batubara di Kalimantan Timur oleh Andi Luthfi, S.T., M.Si dari Dinas Pertambangan dan Energi Prov. Kalimantan Timur. Pembicara lainnya, Merah Johansyah dari Jaringan Advokasi Tambang/JATAM menyampaikan Potret Reklamasi Lahan Pasca Tambang di Kalimantan Timur.

Sesi kedua, Dr. Ishak Yassir peneliti Balitek KSDA mempresentasikan Penerapan Konsep Sinergi dengan Alam dalam Mereklamasi Lahan Bekas Tambang. Dr. Triyono Sudarmadji dari Universitas Mulawarman menyampaikan Upaya Pemulihan dan Potensi Keterpulihan Lahan Pasca Tambang Batu Bara, Sebuah Pengalaman Observasi dan Penelitian Lapangan. Pembicara Agus Tandri dari PT Singlurus Pratama berbagi Pengalaman Kegiatan Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara di PT Singlurus Pratama.

Pada Sesi ketiga, hasil-hasil penelitian Balitek KSDA disampaikan oleh para peneliti, yaitu: Tri Atmoko, S.Hut., M.Si dengan materi “Satwaliar pada Areal Reklamasi Tambang Batubara”. Septina Asih Widuri, S.Si menyampaikan Perbaikan Kualitas Tanah Bekas Tambang Batubara dengan Asam Humat dan Kompos dan diakhiri presentasi Ujicoba Penanaman Jenis Lokal  pada Lahan Reklamasi Tambang Batu Bara oleh Burhanuddin Adman, S.Hut., M.Si.

Dan hasil rumusan sementara yang di peroleh dari seminar tersebut adalah sebagai berikut.

Aspek Kebijakan

  1. Aspek kebijakan berkaitan dengan kegiatan reklamasi sudah cukup lengkap, namun komitmen dan konsistensi penerapannya masih perlu terus ditingkatkan.
  2. Perlu dilakukan penyamaan sudut pandang dalam pemantauan pelaksanaan reklamasi areal pasca tambang batubara oleh Dinas Pertambangan dan Energi, Dinas Kehutanan, dan Badan Lingkungan Hidup.
  3. Khusus di provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dipandang perlu dan mendesak pemenuhan dan penambahan jumlah inspektur tambang dengan jabatan fungsional  untuk mensupervisi dan mengawasi para pemegang IUP secara mamadai.
  4. Perlu sosialisasi hasil penelitian yang berkaitan dengan reklamasi tambang untuk menyamakan persepsi dalam kewajiban reklamasi dan perencanaan serta perijinan dalam kaitannya  dengan penerapan lokasi berdasarkan lansekap.

Aspek Konservasi

Keberadaan tanaman reklamasi di areal tambang batubara dan kehadiran jenis tumbuhan lain dapat mengundang kehadiran satwaliar.  Selanjutnya kehadiran satwaliar di areal reklamasi tambang batubara dapat membantu menyebarkan biji tumbuhan serta membantu proses suksesi secara alami.

Usaha-usaha pemulihan lahan bekas tambang batubara diyakini akan mempengaruhi struktur dan fungsi ekosistem yang rusak tersebut.  Untuk itu, pemantauan dan monitoring keanekaragaman hayati sangat penting dilakukan terutama untuk mendukung pengembangan konsep bersenergi dengan alam.

Aspek Teknis

  1. Analisis tanah perlu/harus dilakukan sebelum kegiatan reklamasi dan revegetasi guna penentuan perlakuan untuk perbaikan sifat tanah.
  2. Penerapan konsep bersenergi dengan alam dalam mereklamasi hutan harus diterapkan terutama pada areal-areal yang berada di kawasan hutan melalui skema ijin pinjam pakai. Keberadaan  fragmented forest dan juga hutan yang ada disekitarnya menjadi faktor pendukung penerapan konsep ini.
  3. Ujicoba penanaman jenis pioneer local pada lahan pasca tambang batubara menunjukkan bahwa jenis Vitex pinnata, Syzygium heteroclada, dan Syzygium polyanthum memberikan pertumbuhan yang baik dengan persen hidup tinggi.
  4. Penggunaan jenis local Vitex pinnata untuk meningkatkan keberhasilan revegetasi pada areal reklamasi pasca tambang batubara tidak lagi memerlukan teknologi yang rumit dan biaya mahal.  Pemupukan dengan 1 kg kompos per lubang tanam dapat menghasilkan pertumbuhan yang baik tidak perlu lagi menambah bahan organik lain seperti asam humat. (pada hasil penelitian di PT. Singlurus Pratama)
  5. Penggunaan bibit untuk kegiatan reklamasi pasca tambang batubara disarankan tidak terlalu kecil (sebaiknya dalam bentuk pancang).
  6. Secara teknis rangkaian penentu keberhasilan kegiatan reklamasi hutan sangat ditentukan oleh:

a. Top soil spreading > 70 cm
b. Penyiapan lahan
1. Lubang tanam ( 40 cm x 40 cm x 40 cm).
2. Pembenahan tanah – dolomite, kompos dan pupuk kimia
c. Tanam
1. Bibit (Standar bibit)
2. Hardening off
f. Pemeliharaan tanaman (Pengendalian erosi dan sedimentasi, dll).

 

Tim Perumus:

  1. Dr. Bambang Tri Hartono, M.F.Sc.
  2. Prof. Dr. B.D.A.S. Simarangkir, M.A.Sc.
  3. Dr. Nur Sumedi, S.Pi., MP
  4. Ir. Adang Sopandi, M.Sc.
  5. Dr. Ishak Yassir, S.Hut., M.Si.
  6. Tri Atmoko, S.Hut., M.Si.
  7. Ir. Sigit Budi
  8. Tambang (Singlurus, KPC, Beraucoal)

Sumber terkait : satu, dua

Share Button