Restorasi lahan bekas tambang merupakan suatu keniscayaan, hal ini terungkap dalam Gelar Teknologi Hasil Litbang dan Inovasi di Hotel Novotel, Balikpapan (Selasa, 9/6/2015). Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menemukan teknologi dalam upaya restorasi areal pasca tambang.

Hasil penelitian Prof. Dr. Pratiwi dan tim peneliti Badan Litbang dan Inovasi telah  berhasil menemukan solusi dalam menghutankan kembali bekas tambang timah. “Salah satu permasalahan lahan bekas tambang timah yaitu meninggalkan hamparan overburden dan tailing kuarsa sehingga  diperlukan input teknologi dalam upaya untuk meningkatkan kualitas lahan” papar Pratiwi. Lebih lanjut Pratiwi menjelaskan bahwa  over burden merupakan lapisan top soil yang  dipindahkan pada waktu pengupasan penutup bijih timah. Sedangkan tailing kuarsa  merupakan limbah hasil pemisahan biji timah yang didominasi oleh pasir kuarsa, sedangkan unsur organiknya kurang dari 3%, sehingga secara alami tanaman sukar tumbuh.

“Strategi rehabilitasi lahan bekas tambang timah antara lain dapat dilakukan dengan memperbaiki kondisi  tanah dengan menambahkan bahan ameliorant, memilih jenis tanaman, membuat bibit, menanam dan memelihara” ungkap Pratiwi.

Lebih lanjut Pratiwi mengaakan bahwa hasil penelitian menemukan fakta bahwa pada umur 3 tahun tanaman yang survive pada hamparan overburden yaitu Eucalyptus urrophila, Eugenia garcinaefolia dan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum). Sedangkan pada hamparan tailing kuarsa bisa ketiganya bisa tumbuh tapi perlu penanganan berupa input energi.

Pada akhir paparannya Pratiwi mengatakan bahwa “Menghutankan kembali lahan bekas tambang timah tidak mustahil dilakukan dengan pemanfaatan teknologi, jenis tanaman yang dikembangkan juga sebaiknya jenis asli dan dikombinasikan dengan jenis cepat tumbuh dan pemeliharaan tanaman mengingat tingkat kesuburan lahan bekas tambang sangat rendah.”

Teknologi lain dalam upaya restorasi yang telah dilakukan Badan Litbang dan Inovasi yaitu berupa penerapan konsep bersinergi dengan alam untuk merehabitasi  lahan bekas tambang batubara. ”Konsep bersinergi dengan alam, cukup sederhana bagaimana kita membantu alam mempercepat memperbaiki dirinya sendiri. Intervensi berupa penanaman kembali, pemeliharaan, pengendalian gulma, dan lain-lain” kata Dr. Ishak Yassir dalam paparannya.

Lebih lanjut Ishak menjelaskan bahwa usaha perbaikan dan pemulihan yang dilakukan melalui kegiatan rehabilitasi dan restorasi khususnya di hutan atau lahan yang terdegradasi akan jauh lebih efektif dan efisien jika kita  mampu menciptakan kondisi di lapangan yang dapat mempercepat terjadinya proses regenerasi alami.

Hal ini dilatarbelakangi oleh perkembangan pemanfaatan areal tambang batu bara yang telah mencapai 5 juta ha yang telah menyebabkan permasalahan yang tidak hanya menyangkut isu lingkungan saja, namun juga masalah kesehatan, deforestasi, dan degradasi kawasan hutan.

Ishak juga menjelaskan pengembangan konsep untuk merehabilitasi lahan bekas tambang batubara di luar kawasan hutan (Areal Penggunaan Lain) yaitu dengan pengembangan konsep tambang berkelanjutan dengan menanaman jenis penghasil energi biomass, pengembangan pemilihan jenis dengan pendekatan 3 (People, Planet dan Profit) dan perbaikan kualitas tanah dengan biochar.

Sementara itu Retno Prayudaningsih, peneliti dari BPK Makassar memaparkan teknologi isomik (isolat mikroba) untuk rehabilitasi lahan bekas tambang.  Isomik sendiri merupakan penemuan tim peneliti BPK Makassar.

Isomik berupa isolat mikroba  yang telah dicampur dengan pasir sebagai material untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dan meningkatkan kualitas lahan bekas tambang.  Isomik generasi pertama dinamai MK 1, merupakan isolat fungi mikoriza arbuskula hasil isolasi dari tanah lahan bekas tambang kapur. Input dari teknologi isomik juga memberikan dampak pertumbuhan swalanjut, bahkan muncul jenis-jenis alami lain.

“Dampak terhadap fauna tanah, karena fauna tanah merupakan bioindikator. Input teknologi isomik mengundang jenis-jenis fauna tanah untuk datang. Hal ini menunjukkan bahwa lahan tersebut sudah mengalami pemulihan” terang Retno.

Retno juga menjelaskan kelebihan isomik  yaitu hanya satu kali aplikasi pada saat penyiapan bibit, dapat meningkatkan pertumbuhan dan keberhasilan tanaman, memperbaiki kualitas tanah (fisik, kimia, biologi) dan menurunkan tingkat polusi.

Teknologi ini telah banyak dimanfaatkan oleh stake holder terkait, namun sayangnya isomik sampai sekarang belum dipatenkan.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Ir. Tri Joko Mulyono, MM menyatakan bahwa Badan Litbang dan Inovasi harus mengkomersialisasikan IPTEK yang dihasilkan, caranya dengan HaKI,  ada dua sisi bisa dijual ke investor dan juga bisa dipatenkan menjadi milik rakyat dan tidak boleh ada satu perusahan yang bisa menggunakannya. “Yang kita hasilkan adalah IPTEKnya, sedangkan produk sampingan bisa kita jual (PNBP)” pungkas Tri Joko di akhir acara Gelar Teknologi yang dihadiri oleh para pelaku usaha pertambangan di wilayah Kalimantan.***(TS)

Sumber : forda-mof.org

Share Button