Presiden Joko Widodo menagih komitmen negara-negara maju untuk serius berkontribusi dalam aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui mobilisasi pendanaan 100 miliar dollar AS hingga 2020.

Angka itu pun harus ditingkatkan untuk tahun-tahun berikutnya. Hal Ini disampaikan Presiden Joko Widodo saat memberikan pidato dalam Conference of Parties (COP) 21 pada Konvensi Kerangka Kerja Sidang PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Paris, Perancis, Senin (30/11/2015).

Presiden mengatakan, Kesepakatan Paris harus mencerminkan keseimbangan, keadilan, serta sesuai prioritas dan kemampuan nasional mengikat, jangka panjang, ambisius, namun tidak menghambat pembangunan negara berkembang.

“Demi mencapai kesepakatan Paris, semua pihak harus berkontribusi lebih dalam aksi mitigasi dan adaptasi, terutama negara maju, melalui mobilisasi pendanaan 100 miliar dollar AS hingga 2020. Angka itu pun harus ditingkatkan untuk tahun-tahun berikutnya,” ungkap Presiden.

“Mencapai kesepakatan di Paris adalah suatu keharusan. Saya mengharapkan kita semua menjadi bagian dari solusi menjadikan bumi ini menjadi tempat yang nyaman bagi anak cucu kita,” tambahnya.

Menurut Presiden, kerentanan dan tantangan perubahan iklim tersebut tidak menghentikan pada komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam aksi global menurunkan emisi.

Untuk itu, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi sebesar 29 persen di bawah ambang batas, pada tahun 2030.

Penurunan emisi tersebut, kata Presiden, dilakukan dengan mengambil langkah di bidang energi berupa pengalihan subsidi BBM ke sektor produktif. Lalu, peningkatan penggunaan sumber energi terbarukan hingga 23 persen dari konsumsi energi nasional tahun 2025.

Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar, menyebutkan, dia telah menugaskan para negosiator Indonesia untuk menjaga negara maju yang kerap tidak berkomitmen dalam menjaga kesepakatan internasional.

“Dia (negara maju) banyak janjinya, soal bantuan finansial, global fund, kata mereka akan dilakukan dipenuhi tapi banyak janji,” ujar Rachmat.

Sebelumnya empat negara eropa yakni Jerman, Norwegia, Swedia dan Switzerland mengumumkan telah menyediakan 500 miliar dollar AS untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Dana ini digunakan untuk membantu negara-negara berkembang.

Sumber berita

Share Button