Tidak diragukan lagi bahwa hutan, masyarakat dan perubahan iklim mempunyai hubungan yang tidak bisa dipisahkan dan saling berpengaruh. Dalam kaitan tersebut, Dr. Henry Bastaman, M.Es., Kepala Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berharap bahwa hutan harus dapat dikelola secara lestari dan arif. Hal tersebut disampaikan Kabadan pada saat membuka acara seminar ke-16 tentang isu internasional terkait hutan dan hasil hutan di Ruang Rapat Sadewa, Hotel Inna Garuda, Yogyakarta (Rabu/05/08).

“Sebagai negara berkembang, peningkatan pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja diprioritaskan. Tetapi untuk mencapai tujuan ini kita tidak akan mengorbankan hutan kita. Sebaliknya kita harus mengelola sumber daya hutan kita secara berkelanjutan,”kata Kabadan.

Lebih lanjut, Kabadan menyatakan bahwa pengelolaan hutan yang berkelanjutan diharapkan nantinya dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengatasi permsalahan perubahan iklim. Dimana 1/5 emisi karbon berasal dari sektor kehutanan.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari baik untuk kesejahteraan masyarakat maupun perubahan iklim, antara lain pengembangan hutan rakyat, komitmen pemerintah untuk menurunkan emisi karbon sebanyak 26% pada tahun 2020 di sektor Kehutanan, kerjasama dengan negara lain dalam proyek perubahan iklim, serta keberhasilan peneliti dalam menemukan beberapa benih unggul dan juga sistem INCAS (Indonesian National Carbon Accounting System) sebagai salah satu Monitoring and Reporting System yang layak sesuai dengan standar UNFCCC.

Namun demikian, Kabadan merasa bahwa apabila Indonesia melakukan sendiri maka tidak akan mampu dan berhasil dalam menghadapi perubahan iklim dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, Kabadan mengajak negara-negara anggota ASEAN untuk lebih memperkuat kolaborasi dan kerjasama dengan cara berbagi informasi, pembelajaran dan peningkatan kapasitas SDM.

“Kolaborasi harus dipertahankan dan dipelihara ke depan untuk mengembangkan kerangka kebijakan perubahan iklim dan juga meningkatkan proses pengambilan keputusan bagi masing-masing negara anggota dalam mengelola sumber daya alam dan ekosistemnya secara lestari,”kata Kabadan.

Seminar yang bertemakan “Kelestarian Hutan dan Perubahan Iklim” ini dihadiri oleh beberapa peserta dari negara-negara ASEAN, seperti Indonesia, Malaysia, Laos, Myanmar, Kamboja, Thailand, Filipina, Brunai dan Vietnam.

Pada acara seminar tersebut menghadirkan keynote speech, Dr.Ir. Nur Masripatin, M.For.Sc, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim dan 8 narasumber lainnya yaitu Dr. Grace Wong (CIFOR), Dr. Rina Laksmi Hendrati (Badan Litbang dan Inovasi), Chair of ASFN (Myanmar), Mr. Ronakan Triraganon (RECOFTC), Dr. Agus Justianto (SAM  Sumber Daya Ekonomi), Ms. Aimi Lee Abdullah (EU-FLEGT Facility), Mr. Htain Lin (AFoCo) dan Mr. Hang Sutra dari Kamboja.

Selain itu, pada acara tersebut juga dilaksanakan serah terima beberapa bibit unggul hasil penelitian Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan kepada masyarakat sebagai tanda bahwa sektor kehutanan juga berperan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bibit unggul yang diserah terimakan tersebut yaitu: a).Acacia mangium  generasi ketiga kepada Dishut Pacitan; b). Acacia auriculiformis  kepada KPHP Yapen Papua, dan c). Melaleuca cajuputi Clonal  kepada KPHP Biak.

Materi terkait:

  1. Forest, and Climte Change : Shaping Agenda beyond 2015
  2. Species Adaptation to Climate Change
  3. Bringing Regional amd International Agenda on Forestry to Lacal Community
  4. Investing for Local Communities
  5. Sustainable Forest Management and Climate Change in Cambodia
  6. Implementing Forest Law Enforcement Governance and Trade (FLEGT) : Experience from Indonesia
  7. Progressing FLEGT in Southeast Asia through ASEAN Cooperation in Forestry
  8. ASEAN-ROK Forest Cooperation: Driving towards a greener Asia

Sumber : klik di sini

Share Button