Pengajar Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada (UGM) berhasil menjadikan bioenergi dari mikroalga strain-strain lokal. Ia adalah Eko Agus Suyono, M.App.Sc yang juga resmi menyandang doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya pada ujian terbuka promosi doktor di program pascasarjana Fakultas Biologi UGM, Sabtu (13/12).

Eko Agus Suyono selama ini sudah dikenal sebagai pengembang kultur dan rekayasa alga dari strain-strain lokal. Penelitian tentang petroalganya dimulai sejak menyelesaikan studi masternya dari James Cook University, Australia pada tahun 2004 karena perhatiannya atas menipisnya cadangan minyak bumi di Indonesia, sementara kebutuhan energi nasional yang akan terus meningkat.

Dalam rilis humas UGM disampaikan, pengolahan mikroalga untuk diolah menjadi biotanol diakui Eko bisa dijadikan salah satu upaya untuk mengelola kekayaan sumber daya laut yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal keberadaan mikroalga diperkirakan cukup berlimpah, soalnya 2/3 wilayah Indonesia merupakan laut.

“Biodiversitas mikroalga yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi bioenergi, salah satuya adalah Tetraselmis sp,” kata Eko.

Berdasarkan hasil penelitian Eko, Bioetanol potensial bisa diproduksi dari hidrolisis biomassa Tetraselmis sp. strain Ancol dan fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae (strain Etanol Red) sebesar 0,36 g etanol/g biomassa setelah inkubasi 48 jam. Hasil ini setara dengan hasil bioetanol tertinggi yang pernah dilaporkan dalam publikasi, yaitu pada penelitian yang dilakukan di Korea.

“Tetraselmis sp strain Ancol merupakan sumber karbohidrat yang potensial untuk produksi bioetanol,” kata Eko.

Selain itu, dari hasil penelitian Eko sampai saat ini setidaknya terdapat 6 spesies Tetraselmis sp yang sudah berhasil diisolasi dari perairan di Indonesia. Semua spesies tersebut masih belum di analisis potensinya sebagai penghasil bioetanol. Sehingga diperlukan penelitian untuk dikembangkan sebagai sumber bioetanol. Sementara dari hasil analisis filogenetik, didapatkan dua clades dari strain-strain Tetraselmis yang diisolasi dari Indonesia dan luar Indonesia, clade pertama terdiri dari strain Ancol, Cilegon, Manado, Vancouver Island (Canada), dan Northumberland (UK) dan clade kedua terdiri dari strain California (USA).

Kandungan karbohidrat dalam biomassa Tetraselmis sp strain Ancol dapat ditingkatkan dengan mengatur rasio Nitrogen:Fosfor sebesar 37: 1 di bawah penyinaran 12 jam terang dan 12 jam gelap dengan kandungan karbohidrat per liter dan karbohidrat per sel tertinggi pada Tetraselmis sp. strain Ancol masing-masing sebesar 0,33 g/L dan 158 pg/sel.

“Organisme ini mempunyai efisiensi fotosintesis yang tinggi dan mempunyai pertumbuhan yang lebih singkat dari tanaman pangan lainnya,” kata Eko.

Ia menambahkan, mikroalga merupakan organisme yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk bahan bakar nabati. Penggunaan mikroalga sebagai bahan baku untuk bahan bakar nabati relatif tidak bersaing dengan tanaman produktif penghasil pangan dan hampir tidak mengurangi luas lahan untuk tanaman pangan.

sumber : klik di sini

Share Button