Dr. Henry Bastaman, M.ES, Kepala Badan Litbang dan Inovasi sangat yakin apabila peneliti di BLI tanggap terhadap lingkungan serta permasalahan sekitar akan bisa mendorong Badan Litbang dan Inovasi (BLI) menjadi leading the way atau terdepan. Hal ini dikemukakakn beliau pada acara Gala Dinner yang merupakan bagian acara INAFOR ke-3 di Ballroom IPB International Convention Center, Bogor, Rabu (21/10).

“Kita harus mengubah setting pemikiran kita. Pola pikir kita sekarang haruslah global. Bisakah dari litbang dan inovasi, setting penelitian kita untuk melihat fenomena yang terjadi. Ini bukan hal yang sederhana, “kata Kabadan.

Kabadan sangat merasa prihatin terhadap kejadian kebakaran dan bencana asap yang melanda wilayah Sumatera dan Kalimantan. Bahkan beliau merasa sangat sedih melihat kejadian kebakaran yang melanda Papua.

“Kalau Papua tidak bisa kita pertahankan maka kita akan habis. Tidak ada Pulau di Indonesia yang bisa kita pertahankan. Tidak ada pesan dalam situasi krisis, semua bingung dan asap menjadi masalah, kata Kabadan.

Beliau juga merasa sedih melihat fenomena di masyarakat Papua yang menganggap hal biasa adanya kebakaran alang-alang tersebut. Mereka tidak tahu akan akibatnya apabila fenomena tersebut dibiarkan bisa menjadi masalah besar di kemudian hari seperti di Kalimantan dan Sumatera.

“Saya harap mulai sekarang, kita melihat secara serius fenomena yang terjadi untuk satu langkah ke depan. Dan saya yakin 500an peneliti dan seluruh jajaran untuk mulai memikirkan itu, “kata Kabadan.

Lebih lanjut, Kabadan menyatakan ada dua hal utama yang harus diperhatikan sehingga bisa membuat BLI menjadi terdepan. Kedua hal tersebut adalah:

  1. Adanya fenomena yang sangat baru dan harus bisa kita telusuri apa yang terjadi. Kemudian buat prioritas atas permasalahan tersebut untuk diselesaikan
  2. Fenomena lama yang ada, tetapi kita belum berhasil menyelesaikan sedangkan tekanan terhadap fenomena tersebut juga semakin meningkat. Contohnya adalah konsumsi kita akan sumber daya hutan yang semakin meningkta tetapi produksi hutan masih tetap bahkan berkurang.

“Kita sekarang harus mulai untuk berpikir jangka panjang atas kebijakan pembangunan sekarang. Bagaimana kita harus menyiapkan 5 tahun ke depan, pemikiran tersebut sangat dibutuhkan. Sebelum dicision maker, kita harus satu langkah ke depan, “kata Kabadan.

Selain itu, Kabadan juga mengajak peneliti dan manajemen untuk mulai berpikir ulang atau memformat penelitian-penelitian mana yang diprioritaskan sesuai dengan fenomena sekitar dan betul-betul harus diselesaikan.

Dalam acara tersebut, juga dipresentasikan hasil kerjasama BLI dengan FCPF dan CIFOR. Dimana kedua lembaga tersebut juga menjadi sponsor dalam kegiatan INAFOR ke-3 ini. Selain itu, dalam acara gala dinner yang diikuti oleh seluruh peserta INAFOR ke-3 juga diumumkan pemenang lomba riset dengan tema Food, Energi, Medicine and Others.

Adapun pemenang lomba foto riset tersebut adalah:

  1. Foto Favorit :Judul: ”Julang Sumba Siap Mendarat”, by Oki Hidayat, BPK Kupang
  2. Juara kategori Food: Judul : Emydura subglobosa by Richard Gatot  Nugr oho, BPK Manokwari
  3. Juara Kategori Energy : Judul: “Wood Pellets” by Deden Nurhayadi, Puslitbang Hasil Hutan
  4. Juara Kategori Medicine: Judul: “Uder cup jamur (Filoboletus manipularis) by Andi Nopriansyah – BPK Palembang
  5. Juara Kategori Others : Judul: “Lawan Aku” Bekantan Sungai Hitam, by Ishak Yassir

Sumber : forda-mof.org

Share Button