Joula Goni masuk ke rumahnya. Tidak lama kemudian ia keluar lagi. Di tangan perempuan Minahasa itu, sebuah tengkorak dijinjing. Ia menaruhnya pada sebuah meja plastik yang telah dialas.

Satwa endemik Sulawesi itu, memiliki ciri unik. Berbeda dengan bentuk babi umumnya, babirusa memiliki dua cula atau tanduk dekat hidung yang melengkung ke belakang. Sementara bagian bawah gigi, juga terdapat cula yang runcing, dan sekilas mirip gading gajah. Menurut Joula, tengkorak ini didapat sang suami ketika masih berburu di hutan.

”Suami saya dapat tengkoraknya saja. Diperkirakan karena berkelahi atau sudah tua.”

Joula Goni adalah satu dari sedikit masyarakat etnis Minahasa yang tinggal di Desa Lembah Permai, Kecamatan Wanggarasi, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Desa ini merupakan desa transmigrasi yang bersinggungan langsung dengan hutan. Dari pandangan orang luar, Lembah Permai merupakan desa yang terkenal dengan tempat para pemburu satwa.

“Memang banyak perburuan di sini, tapi pemburunya dari kampung lain, bukan warga sini. Mereka pasang jerat di hutan, kemudian datang menjemput hasil buruan,” kata Sudirman Hasan, Sekretaris Desa Lembah Permai, kepada Mongabay Indonesia.

Sudirman mengaku tidak nyaman ketika desa yang ia tempati sejak 1990-an itu disebut tempatnya para pemburu satwa, apalagi satwa dilindungi. Ia berharap ada cara yang mengatur perburuan tersebut, yaitu melalui skema KPAD (Kesepakatan Pelestarian Alam Desa) yang difasilitasi Burung Indonesia.

“Lahirnya KPAD ini, bisa mengatur semua hal, baik yang ada hubungannya dengan menjaga hutan maupun tentang perburuan satwa yang dibolehkan atau tidak.”

Problem transmigrasi

Menuju Lembah Permai, dibutuhkan waktu dua jam dari Marisa, Ibu Kota Kabupaten Pohuwato, atau 6-7 jam dari Kota Gorontalo. Jalan desa masih berbatu dan pada beberapa titik ada yang menanjak.

Udaranya sejuk. Penduduknya transmigran lokal asal Minahasa dan Bolaang Mongondow dari Sulawesi Utara, serta dari Gorontalo sendiri. Air melimpah dan mengalir dengan baik ke rumah-rumah penduduk. Desa ini pernah ditawari investasi PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro) dari Korea dengan memanfaatkan sungai Malango, salah satu sungai besar. Namun batal, karena di seberangnya terdapat perkebunan sawit yang terhubung dengan Sungai Malango.

“Ini berdampak buruk pada Sungai Malango karena diprediksikan debit air berkurang akibat sawit. Investasi batal. Orang Korea itu pulang,” ujar Sudirman Hasan.

Jumlah penduduk Lembah Permai hanya 419 jiwa dengan jumlah 114 kepala keluarga. Mereka menempati luas desa yang diberikan oleh Dinas Transmigrasi seluas 5.000 hektar. Sebagian wilayah desa masuk dalam kawasan hutan. Ketika disurvei ulang pada tahun 2015, luas desa menyusut menjadi 1.323 hektar.

“Kini, jumlah kepala keluarga asli yang menetap hanya 30 persen. Mereka kembali ke kampungnya,” ungkap Joula, yang juga perangkat desa.

Menurutnya, alasan utama banyak warga yang kembali ke kampung asal, karena lahan untuk pertanian tidak cocok dan rata-rata kebun yang digarap berada pada kemiringan. Banyak rumah yang sudah dibangun dibiarkan kosong.

Joula bercerita, beberapa kali ada kerabatnya dari Minahasa yang datang untuk menetap. Namun, setelah melihat kondisi desa transmigrasi itu, mereka memutuskan untuk kembali ke Minahasa.

Sementara, bagi masyarakat transmigran yang bertahan, mereka selalu berharap desa mereka akan setara dengan desa lainnya yang bersinggungan langsung dengan wilayah hutan, sebagaimana yang ada di Pohuwato. Harapan itu adalah mengembangkan salah satu jenis tanaman agroforestry yang potensial di bentang alam Popayato-Paguat, kakao.

“Meski lahan kami tak seluas dua desa dampingan Burung Indonesia seperti Makarti Jaya dan Puncak Jaya, masyarakat berkomitmen menjaga hutan dan mengembangkan model ekonomi yang diatur sebagaimana Kesepakatan Pelestarian Alam Desa,” paparnya.

Hutan Blok Popayato-Paguat

Hutan yang bersinggung langsung dengan Lembah Permai adalah Bentang Alam Popayato – Paguat yang merupakan wilayah kerja Burung Indonesia dalam program Restorasi Ekosistem.

Burung Indonesia dalam memorandum teknisnya menuliskan; penetapan jenis-jenis perwakilan dalam rencana aksi konservasi di Bentang Hutan Alam Popayato – Paguat, yang disusun Hanom Bashari, Pantiati, dan Windriawati Botutihe, menjelaskan blok hutan Popayato-Paguat merupakan hutan kering luruh daun (dry deciduous forest) seluas 84.798 hektar: 18.230 hektar hutan produksi dan 66.568 hektar hutan produksi terbatas. Blok hutan ini masuk wilayah dua kabupaten, Pohuwato dan Boalemo.

“Blok hutan ini bagian dari bentang hutan alam Popayato-Paguat, termasuk Cagar Alam Panua di selatan dan Suaka Margasatwa Nantu di timur, serta enam kawasan hutan lindung lain di sekitarnya.”

Dalam laporan itu diungkap, sejak 2014 blok hutan Popayato-Paguat telah ditetapkan sebagai Important Bird and Biodiversity Area (IBA) berdasarkan kriteria A1 yang artinya kehadiran jenis-jenis terancam punah secara global dan A2 yaitu kehadiran jenis-jenis burung sebaran terbatas.

Beberapa jenis burung terancam punah secara global (Globally Threatened Species-GTS) yang pernah dijumpai adalah maleo senkawor (Macrocephalon maleo), kakatua -kecil jambul- kuning (Cacatua sulphurea), mandar muka-biru (Gymnocrex rosenbergii), kangkareng sulawesi (Rhabdotorrhinus exarhatus), dan julang sulawesi (Rhyticeros cassidix).

“Wilayah ini juga menjadi habitat bagi 67 jenis burung endemik dan 7 jenis burung sebaran terbatas.”

Laporan itu menyebutkan bentang hutan alam Popayato-Paguat, juga merupakan habitat terbaik dari jenis-jenis mamalia terancam punah secara global. Beberapa di antaranya sangat ikonik bagi Sulawesi, seperti babirusa sulawesi (Babyrousa celebensis) dengan status Rentan (Vulnarable), anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) status Genting (Endangered), anoa dataran tinggi (Bubalus quarlessi) status Genting, monyet hitam Gorontalo (Macaca hecki) status Rentan, tarsius sulawesi (Tarsius tarsier) status Rentan, dan kuskus beruang sulawesi (Ailurops ursinus) berstatus Rentan.

Laporan yang dibuat 2015 itu mengatakan, blok Popayato-Paguat yang berstatus hutan produksi itu rentan terhadap penurunan kualitas habitat dan keragaman hayati di dalamnya. Padahal, tingginya nilai keragaman hayati di blok hutan ini karena juga fungsinya sebagai daerah penghubung bagi perlintasan jenis dan populasi genetik dari beberapa satwa khas Sulawesi.

“Blok hutan Popayato-Paguat merupakan pusat konektivitas dari blok-blok hutan penting lain di sekitarnya, seperti blok hutan Nantu, Matinan-Ileile, dan Panua, yang menjadi satu kesatuan dalam bentang hutan alam. Melalui Restorasi Ekosistem diharapkan dapat mengembalikan keseimbangan seluruh fungsi dan tipe habitat di hutan produksi di blok hutan ini,” ungkap Burung Indonesia dalam laporannya.

sumber : klik disini

Share Button