Ka_BalaiSungai Kuala Samboja atau dikenal pula dengan Sungai Hitam merupakan habitat bekantan, satwa
primata endemik Borneo yang dilindungi. Satwa yang memiliki nama ilmiah Nasalis larvatus Wrumb tersebut saat ini dalam status terancam punah, terutama disebabkan habitatnya yang semakin berkurang dan terpecah-pecah. Terlebih, habitat yang tersisa tersebut sebagian besar bukan merupakan kawasan konservasi.

 

Oleh karena itu upaya restorasi habitat bekantan adalah salah satu solusi yang dapat ditempuh. Terkait dengan hal tersebut, Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) menggelar kegiatan penanaman pohon di sempadan Sungai Kuala Samboja, Kutai Kartanegara, Selasa (24/5).

Ahmad Gadang Pamungkas, Kepala Balitek KSDA menjelaskan bahwa kegiatan penanaman tersebut merupakan bagian dari model kemitraan yang tengah dikembangkan oleh tim peneliti Balitek KSDA untuk merestorasi habitat bekantan. Melalui model tersebut diharapkan selain menyelamatkan bekantan juga dapat mengembangkan pariwisata serta peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Penelitian bekantan di Sungai Kuala Samboja sudah dilakukan oleh peneliti asing maupun dalam negeri. Masyarakat pun mulai mengetahui keistimewaan satwa bekantan. Namun sampai saat ini tidak ada perhatian pemerintah untuk mengembangkannya sebagai kawasan wisata.

Hal itu diungkapkan Samsul Bahri, Sekretaris Camat Samboja, dalam sambutannya pada acara pembukaan kegiatan penanaman. “Semoga setelah kegiatan ini, DPRD dapat menyampaikan kepada Dinas Pariwisata, sehingga keberadaan bekantan dapat mendatangkan income bagi masyarakat Samboja”, lanjutnya.

Peneliti bekantan dari Balitek KSDA, Tri Atmoko memaparkan bahwa penelitian yang telah dilakukan meliputi aspek habitat, sumber pakan, pemanfaatan ruang habitat, sebaran, populasi, sosial masyarakat dan potensi ekowisatanya. Pemilihan jenis tanaman pun dilakukan melalui kajian ilmiah. Sempadan sungai yang tergenang ditanami jenis-jenis mangrove seperti Sonneratis caseolaris dan Rhizophora sp. Jenis-jenis tersebut merupakan tanaman asli setempat yang diharapkan mampu melindungi tepi sungai dari erosi dan menjadi sumber pakan bekantan. Adapun di lahan masyarakat di sekitarnya yang kondisinya relative kering ditanami jenis-jenis yang dapat memberikan nilai ekonomi.  Jenis tersebut seperti karet (Hevea braziliensis) dan buah-buahan seperti rambai buah (Baccaurea motleyana), langsat (Lansium domesticum), nangka (Artocarpus heterophyllus), dan cempedak (Artocarpus integer). “Berdasarkan perjanjian kemitraan yang telah disepakati, nantinya masyarakat dapat memanen hasil hutan bukan kayu (HHBK) tanpa menebang pohonnya”,lanjut Tri.

Kegiatan yang juga dilaksanakan untuk memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional yang jatuh pada tanggal 22 Mei tersebut menggandeng masyarakat dan pemangku kepentingan wilayah samboja. Beberapa pihak yang turut berpartisipasi antara lain, Kecamatan Samboja, Kodim 0906/TGR, Koramil Samboja, Polsek Samboja, UPTD Dishutbun Kutai Kartanegara, Kelurahan Kampung Lama, Kelurahan Kuala Samboja, LPM, tokoh masyarakat dan anggota DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara, PT. Pertamina E&P, PT. Pengelolaan Limbah Kutai Kartanegara, Karang Taruna, Tribun Kaltim, MNC group, serta perwakilan dari SMAN 1 Samboja.

Dalam rangkaian acara tersebut secara simbolis juga dilakukan penyerahan buku dan CD film bekantan Kuala Samboja kepada para stakeholder yang hadir. Partisipasi para stakeholder tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat dan pemerintah daerah terhadap pentingnya keanekaragaman hayati, terutama bekantan di Sungai Kuala Samboja. [emilf]

Share Button