Berada di kawasan tropis dengan curah hujan tinggi, di kelilingi pegunungan yang jadi tangkapan air alami, dan sungai-sungai membelah pulau-pulaunya, Indonesia tak seharusnya dibayangi krisis air bersih. Nyatanya separuh penduduk Indonesia belum terlayani air bersih dan jumlah warga yang tergantung air minum dalam kemasan meningkat.

Privatisasi air yang dikuatkan oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air kian meminggirkan peran negara dalam menyediakan air bersih. Konflik perebutan sumber daya air pun merebak di beberapa daerah. Dampak lain adalah penumpulan kemandirian warga dalam menyediakan air bersih. Saat UU itu dibatalkan Mahkamah Konstitusi, pemerintah menyatakan tak siap menyediakan air bersih.

”Padahal, alam menyediakan air minum berkualitas baik secara gratis, yakni air hujan,” kata Romo Kirjito, yang sejak dua tahun terakhir melakukan riset dan percobaan pengolahan air hujan sebagai air minum.

Secara tradisional, sebagian masyarakat Indonesia telah memakai hujan sebagai sumber air bersih utama, seperti masyarakat di Kalimantan, Flores, dan Papua. ”Namun, ada asumsi air hujan dianggap tak baik bagi kesehatan. Padahal, air hujan paling rendah kadar logam beratnya,” ujarnya.

Penelitian Kirjito, air hujan di Indonesia kandungan mineral terlarutnya (TDS/total dissolved solid) di bawah 20 miligram per liter (mg/l). Padahal, TDS air kemasan banyak yang di atas 100 TDS. Versi Standar Nasional Indonesia (SNI) 2006, TDS maksimum 500 mg/l.

I Gede Wenten, ahli membran dan kimia air dari Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan, air hujan relatif belum tercemar, tapi butuh pengolahan hingga siap konsumsi. Dia optimistis kita bisa mandiri menyediakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Wenten merupakan ahli yang meraih 15 hak paten. Salah satu temuannya adalah penyaring berpori atau membran skala nano yang bisa menyaring semua materi pencemar dalam air, termasuk bakteri. Sistem membran memiliki nanofiltrasi yang ukuran porinya lebih kecil dari ukuran bakteri 0,5–5 mikron atau 0,001 mm. Dengan sistem membran itu, air kotor bisa disaring jadi air bersih.

Potensi air hujan

Terkait air hujan, menurut Wenten, yang kerap jadi soal adalah proses penampungannya. ”Air hujan yang lewat genting rumah kemungkinan tercemar kotoran,” ucapnya.

Namun, menurut Kirjito, dibandingkan air di dalam tanah, potensi tercemarnya air hujan yang ditampung lebih kecil. ”Material pencemar di dalam tanah lebih banyak,” katanya.

Di daerah industri yang mutu udaranya buruk, kemungkinan terjadi hujan asam atau tercemarnya air hujan oleh oksida sulfur dan oksida nitrogen yang bersifat toksik, cukup tinggi. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berdasarkan pantauan di 48 stasiun pada Desember 2014 menunjukkan, tingkat keasaman air hujan di beberapa kota di Indonesia di atas batas PH air hujan normal, sebesar 5,6. Namun, ada sejumlah kota yang ada di bawah ambang batas itu, di antaranya Jayapura, Lampung, Kediri, Mataram, Padang, dan Serang.

”Kondisi hujan asam ini bisa disiasati dengan tak memakai air hujan yang baru turun, namun menunggu beberapa saat baru ditampung,” kata Wenten.

Persoalan lain, air hujan miskin unsur-unsur mineral yang dibutuhkan tubuh seperti fosfor dan kalsium yang terlarut dalam tanah. ”Air hujan yang meresap dalam tanah lebih kaya mineral. Namun, jika berlebih bisa berbahaya,” kata Wenten.

Menurut Kirjito, masalah keasaman PH air hujan bisa diatasi dengan alat sederhana yang dibuat sendiri oleh warga. Ditemui di tempat tinggalnya di Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (28/2), Kirjito dikelilingi bejana, botol, dan gelas-gelas berisi air.

Dia lalu memperagakan teknik sederhana menjadikan air hujan yang cenderung asam jadi air basa atau alkali. Caranya, memisahkan air asam dan basa dengan arus listrik DC agar terjadi ionisasi. Arus listrik dialirkan ke konduktor stainless foodgrade pada dua bejana berhubungan berisi air hujan atau bisa dicampur air tanah selama empat jam atau lebih, tergantung kadar PH yang diinginkan.

”Jika hanya air hujan, karena mineral terlarutnya rendah, butuh waktu ionisasi lebih lama. Kita harus ukur kadar TDS-nya. Biasanya air yang kita sarankan di bawah 50 TDS,” kata Kirjito.

Makin lama proses terionisasinya, perbedaan PH antara dua bejana itu makin tinggi, satu bejana kian basa dan satunya makin asam. Air basanya bisa langsung dikonsumsi, dan yang asam untuk pupuk tanaman.

”Dari pengukuran ORP (oxidation reduction potential), air hujan yang kami proses ini sifat antioksidannya tinggi. Dua tahun ini saya mengonsumsinya, saya merasa jauh lebih sehat dan jarang sakit lagi,” kata Kirjito. Beberapa orang yang menerapkan metode pengolahan air minum itu yang bertamu ke laboratorium Kirjito siang itu mengungkapkan hal sama.

”Kami tak jualan alat, bahkan budaya instan itu yang ingin kami tolak. Hal terpenting adalah mendorong warga punya budaya meneliti dan menyediakan air bersih secara mandiri,” ujarnya.

Meneliti air

Menurut Kirjito, yang dibutuhkan warga untuk meneliti air minum adalah alat pengukur PH dan TDS, yang bisa dibeli di banyak toko kimia ataupun toko daring (online) dengan harga terjangkau. Adapun bejana dan adaptor untuk mengolah airnya bisa dibuat sendiri. Total biaya tak sampai Rp 1 juta untuk membuat instalasi pengolahan air dan membeli alat ukur.

Mintje Maukar, spesialis water treatment yang belasan tahun bekerja di perusahaan asing mengatakan, dua bulan terakhir memakai air hujan yang diionisasi. Menurut dia, tubuh bersifat asam dan butuh asupan bersifat basa. Air berfungsi membawa nutrisi dan oksigen bagi tubuh, melarutkan dan mengeluarkan sampah atau racun.

”Air bersifat basa bisa berperan lebih baik, termasuk membantu memelihara dan mengganti sel-sel tubuh rusak,” katanya. Air hujan termasuk terbaik karena paling murni. Jika dijadikan alkali, air hujan itu amat baik bagi tubuh.

Kebutuhan asupan mineral, yang minim diperoleh dari air hujan, tak perlu dikhawatirkan, karena banyak diperoleh dari makanan. ”Bahkan, pola makan masyarakat cenderung kelebihan mineral. Yang dibutuhkan justru air untuk melarutkan kelebihan asam dan racun yang terakumulasi dalam tubuh,” kata Minjte, yang berlatar belakang pendidikan kedokteran itu.

Di alam, air alkali siap minum ada pada air kelapa. Air jeruk nipis, meski terasa asam, juga bersifat basa saat dalam tubuh. Upaya menjadikan air agar ber-PH basa dengan alat, populer di Indonesia. Sejumlah alatnya yang diimpor dijual mahal. ”Padahal kami bisa membuatnya sendiri,” kata Kirjito.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam publikasinya pada 2003, mengingatkan, air dengan PH ekstrem, terlalu basa ataupun asam, tak baik bagi tubuh. Air dengan PH lebih dari 11 menyebabkan iritasi mata dan kulit, serta pembengkakan sel rambut. Air dengan PH di bawah 4 menimbulkan hal sama. Jika PH air lebih rendah dari 2,5, berdampak serius pada organ dalam.

Kirjito menyarankan, saatnya masyarakat mandiri memperhatikan kebutuhan tubuhnya, termasuk dalam menyediakan air layak minum. Itu bisa jadi gerakan perlawanan terhadap gurita komodifikasi air. Karena air adalah hak tiap manusia….

Sumber : klik di sini

Share Button