Pelatihan_lapang_2014Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) Samboja bekerjasama dengan ELTI (Environmental Leadership and Training Initiative) Yale NUS College dan Tropenbos Indonesia mendiseminasikan hasil penelitiannya melalui Pelatihan Lapang “Rehabilitasi dan Restorasi Hutan: Prinsip, Metoda dan Strategi”, 24-28 Maret 2014.

Pada pelatihan yang dihadiri oleh Direktur Program ELTI untuk wilayah Asia Dr. David Neidl, Direktur INHUTANI I, Kepala BDK Samarinda, Kepala Pusat Hutan Tropis Universitas Mulawarman dan wakil General Manager PT Singlurus Pratama ini ditekankan pentingnya upaya reklamasi bekas tambang terutama tambang batubara skala kecil.

Pelatihan yang dibuka Dr. Putera Parthama, M.Sc, Plt. Kepala Badan Litbang Kementerian Kehutanan dilaksanakan di Samboja, meliputi Herbarium Wanariset, Persemaian, KHTDK Balitek KSDA, Bukit Bengkirai dan demplot penelitian reklamasi bekas tambang di PT. Singlurus Pratama.

Dalam sambutannya, Kepala Badan mendorong Balitek KSDA agar terus berinovasi dan memberikan kontribusi untuk mewujudkan misi besar Badan Litbang Kementerian Kehutanan. Inovasi pengembangan konsep “reklamasi bersinergi dengan alam” yang sedang dikembangkan terkait kegiatan rehabilitasi dan restorasi di lahan bekas tambang batubara.

“Kegiatan ini menjadi salah satu terobosan dan metode yang handal dalam mereklamasi lahan bekas tambang batubara,” kata Putera di depan sekitar 25 orang peserta yang mewakili berbagai institusi, baik kalangan pemerintah, Badan Usaha Milik Negara, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat maupun swasta pelaku tambang.

“Selain itu, keluaran dari hasil penelitian dalam pengembangan konsep ini ke depan tidak hanya efektif dan efisien, namun juga nantinya tidak hanya dapat diterapkan di wilayah Kalimantan saja, tetapi juga dapat diaplikasikan secara nasional,” tambah Putera.

Pelatihan ini menarik dan penting karena memadukan dengan sangat baik antara substansi ilmiah hasil penelitian dengan pengalaman praktis dari lapang. Oleh karena itu, Kepala Badan berharap agar peserta pelatihan nantinya mampu menjadi agen-agen perubahan yang mampu memberikan kontribusinya dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, khususnya dalam memulihkan sebuah ekosistem yang terdegradasi.

Peserta juga diharapkan mampu meningkatkan pemahamannya tentang pentingnya nilai ekosistem hutan, mengenal ilmu botani dasar dan ekologi hutan sebagai landasan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan sebuah kegiatan rehabilitasi dan restorasi.

Selain itu, peserta juga dapat mengenal dan memahami prinsip-prinsip, metode dan strategi kegiatan rehabilitasi dan restorasi hutan dalam konteks tujuan pengelolaan, kondisi ekologis dan sosial yang berbeda, mampu sebagai perencana, pelaksana dan evaluator di dalam sebuah kegiatan rehabilitasi dan restorasi. Yang terpenting lagi, setelah pelatihan ini diharapkan para peserta akan menerapkan dan mengembangkan apa-apa yang sudah diterima selama pelatihan lapang ini.

Pada kesempatan ini, Kepala Balitek KSDA, Nur Sumedi menyampaikan bahwa Balitek KSDA bekerjasama dengan Universitas Mulawarman, Samarinda berencana menyempurnakan Permenhut terkait reklamasi, khususnya dalam memasukkan keanekaragaman hayati (flora dan fauna) dalam kriteria penilaian keberhasilan reklamasi hutan.

Berdasarkan Permenhut Nomor P.60/Menhut-II/2009 tentang Pedoman Penilaian Keberhasilan Reklamasi Hutan, saat ini kriteria penilaian keberhasilan masih mengacu pada 3 aspek, yaitu aspek penataan lahan, aspek erosi dan sedimentasi serta aspek revegetasi dan penanaman pohon. Sementara aspek yang juga sangat penting terkait keanekaragaman hayati masih belum tercakup dalam aturan ini, sehingga ke depan hal ini menjadi sebuah gap yang harus segera disempurnakan, tidak hanya oleh Balitek KSDA dan Universitas Mulawarman saja, namun juga para praktisi yang bekerja dan konsen dalam kegiatan konservasi sumber daya hutan di Indonesia. (NS)***

sumber : klik di sini

Share Button