Sebanyak tujuh ekor macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) tertangkap kamera yang dipasang di Gunung Malabar, Kabupaten Bandung.

Video rekaman dan gambar foto macan tutul tersebut baru-baru ini dipublikasikan Conservation International di Internet. Istimewanya, kamera berhasil merekam sepasang macan tutul yang sedang kawin.

Manajer program Conservation International Anton Ario mengatakan rekaman gambar macan tutul sedang kawin di alam liar itu merupakan rekaman langka. Sepasang macan tersebut terekam kamera pada musim kawin, tepatnya 20 November 2014. “Pasang kameranya sejak akhir 2013, baru dapat gambarnya 2014,” kata Anton saat dihubungi Tempo, Selasa, 8 September 2015.

Publikasi ketujuh macan tutul itu dilakukan setelah lembaga tersebut menyelesaikan laporan hasil pemantauan 2014 lewat 12 pasang kamera video dan foto inframerah.

Sepanjang tahun itu, kata Anton, di kawasan hutan lindung gunung di selatan Bandung setinggi 2.343 meter dari permukaan laut tersebut teridentifikasi tiga ekor jantan dan empat ekor betina. “Semuanya terlihat sehat, badannya berisi, usia umumnya lebih dari 10 tahun,” ujarnya.

Identifikasi per individu macan tersebut dilihat dari corak tutulnya. Perbedaan tutul itu, kata Anton, seperti sidik jari pada manusia. Keberadaan mereka pada ketinggian sekitar 1.000-2.000 meter dari permukaan laut di lereng gunung tersebut. “Daya jelajahnya per ekor sekitar 8 kilometer persegi,” ujarnya.

Selain macan tutul, kamera juga mendapatkan gambar satwa-satwa mangsanya, seperti kijang, celeng atau babi hutan, dan kancil. “Mangsa utamanya ketiga jenis itu, masih banyak di Malabar,” ujarnya. Mangsa lainnya seperti musang dan mamalia kecil lainnya.

Program pemantauan macan tutul di Gunung Malabar itu merupakan kerja sama Conservation International dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Perhutani, Yayasan Owa Jawa.

Kini pemantauan macan tutul di Gunung Malabar, seperti yang dilakukan di Gunung Gede dan Halimun-Salak, masih berlangsung. “Targetnya mendapat gambar anakan macan tutul. Selama ini belum pernah terlihat,” ujarnya.

Dari hasil temuan itu, lembaga konservasi tersebut berharap Perhutani sebagai pengelola kawasan meningkatkan konservasi hutan dan habitatnya.

Misalnya, kata Anton, dengan mempertahankan utuh hutan lindung dan tidak mengurangi habitat dengan pembukaan lahan. “Kalau Malabar hutannya rusak, jangan aneh terjadi konflik macan dengan manusia,” ujarnya.

Sumber : klik di sini

Share Button