BPTKSDA (Samboja, 25/05/2015)_Dalam rangka mendekatkan dan meningkatkan pengetahuan di bidang biosistematik dan etnofarmaka, mahasiswa dan dosen Farmasi Universitas Mulawarman melakukan kuliah lapang di Balitek KSDA. Kegiatan ini dilakukan selama dua hari dari tanggal 25 s.d. 26 Mei 2015. Peserta kuliah lapang merupakan mahasiswa angkatan 2014 dengan jumlah 76 orang yang didampingi oleh 4 dosen pengampu yaitu Islamudin Ahmad, S.Si, M.Si, Apt, Riski Sulistryarini, S.Farm., Apt, Wisnu Cahyo Prabowo, S.Farm., M.Si, dan Wahyu Hidayat, S.Farm., M.Si.

Kepala Balitek KSDA, Ahmad Gadang Pamungkas, S.Hut, M.Si dalam sambutannya mengapresisasi dengan baik adanya kuliah lapang dari perguruan tinggi. “Keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia agar dapat dikembangkan terutama yang memiliki khasiat obat. Pembuatan plot Tumbuhan Berkhasiat Obat di KHDTK Samboja telah kami lakukan sebagai bentuk upaya konservasi keanekaragaman hayati tersebut,” kata Gadang. Selain itu, kedepannya kerjasama penelitian dibidang tumbuhan obat juga terbuka lebar bagi Farmasi Unmul bersama peneliti di Balitek KSDA.

Pelaksanaan kuliah lapang dimulai di aula Balitek KSDA dengan materi pertama disampaikan oleh Dr. Wawan Gunawan, S.Hut, M.Si dan Septina Asih Widuri, S.Si. dengan tema “Kondisi Hutan Kalimantan dan Prospek Pemanfaatan Tumbuhan Obat Secara Berkelanjutan”.  “Hutan Kalimantan memiliki potensi keanekaragaman hayati terutama tumbuhan obat yang sangat tinggi. Namun juga memiliki ancaman yang tinggi terhadap kelestarian keanekaragaman tumbuhan obat tersebut akibat berbagai aktivitas manusia”, ungkap Septina. “Sebagai upaya pemanfaatan pemanfaatan tumbuhan obat secara berkelanjutan sekaligus strategi konservasi tumbuhan obat dalam menghadapi ancaman yang ada, maka dapat dilakukan kegiatan budidaya tumbuhan obat dan bioprospecting tumbuhan obat”, kata Wawan.

Materi kedua dilanjutkan dengan “Teknik Pengumpulan dan Pembuatan Herbarium”  yang disampaikan oleh Bina Swasta Sitepu, S.Hut. “Pemilihan material tumbuhan yang tepat akan memberikan informasi yang baik untuk spesimen herbarium yang dibuat”, ujar Bina. Dengan informasi dan kondisi herbarium yang baik, proses identifikasi akan lebih mudah dilakukan dan lebih banyak informasi yang dapat didapat dari koleksi tersebut. Pada sesi selanjutnya, mahasiswa dibagi dalam dua group praktek lapangan, yaitu: Potensi Tumbuhan Obat dan Teknik Sampling Tumbuhan di Plot Tumbuhan Obat Balitek KSDA dan Pembuatan Herbarium di Herbarium Samboja.

Saat mengunjungi Plot Tumbuhan Obat di KHDTK Samboja. Mahasiswa tampak antusias dapat menemukan secara langsung tumbuhan berkhasiat obat di alam. “Apa manfaat Kedemba ini pak?”, kata Lilis salah satu mahasiswa. “Etnis Kutai di Kalimantan Timur menggunakan Kedemba untuk pengobatan pasca melahirkan dan juga dapat mengatasi demam. Caranya dengan meminum air rebusan kulit batang dari pohon hutan ini”, kata Tri Atmoko, S.Hut, M.Si yang mendampingi selama di lapangan. Peserta terlihat menikmati saat menjelajahi trek Plot Tumbuhan Obat dan aktif melakukan tanya jawab juga kepada pendamping lainnya Mardi Tofani Rengku (Teknisi Litkayasa Penyelia) dan Taufiqurrohman, S.Hut, M.Si (Pengelola KHDTK Samboja).

Pada sesi pembuatan herbarium di Herbarium Wanariset samboja, mahasiswa  diajak untuk melakukan praktek pembuatan herbarium didampingi oleh Zainal Afirin (pengenal jenis), Priyono (Drawer), Mira Kumalaningsih, S.Hut (Data Base) dan Iman Suharja (Pengelola Herbarium Wanariset).  Kegiatan mulai dari pengambilan spesimen, penanganan spesimen di lapangan, pengeringan, pengeplakan, pemberian label dan penyimpanan data di database. Pada sesi ini, mahasiswa mengaku masih agak bingung ketika menemukan jenis yang memiliki daun berukuran besar. “Bagaimana membuat koleksi herbarium dari Sukun yang memiliki daun yang besar ?” tanya Barry. “Daun yang besar dapat dilipat secukupnya sesuai dengan ukuran kertas tempel sehingga informasi yang diperlukan dari koleksi tersebut tetap dapat terlihat jelas”, jelas Arifin.

Pada akhir kuliah, Mahasiswa diberi kesempatan untuk menyiapkan spesimen hasil pengambilan di lapangan untuk dikeringkan di oven pengering. Dengan adanya kuliah lapang ini, diharapkan mahasiswa dapat mengkoleksi dan membuat herbarium tumbuhan berkhasiat obat untuk kegiatan penelitian ataupun untuk koleksi   di kampus.*** ADS

Untitled-1

Share Button