Para perunding dalam Konferensi Perubahan Iklim di Paris berencana menyelesaikan agenda pada hari Sabtu (12/12/2015), atau sehari lebih panjang dari waktu yang direncanakan.

Upaya untuk mencapai kesepakatan hari Jumat menemui jalan buntu sehingga memaksa adanya perpanjangan waktu.

Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan negosiasi ini merupakan yang paling kompleks, sulit, tapi sangat penting bagi kemanusiaan.

Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius yang memimpin perundingan merasa optimistis dengan jalannya perundingan.

“Kami hampir tiba di ujung jalan, dan saya optimistis,” katanya.

Konferensi ini memasuki putaran akhir utuk mencoba mengamankan kesepakatan global yang akan merancang strategi bersama jangka panjang untuk menghadapi perubahan iklim.

Sekalipun demikian, masih ada beberapa isu yang belum terselesaikan.

Tidak mengejutkan

Kampanye selama konferensi untuk meminta diakhirinya pemakaian bahan bakar fosil.
Para peserta konferensi yang disebut COP21 ini masih bekerja menyusun kata-kata yang akan digunakan dalam dokumen yang menjadi capaian penting itu.

Jika kesepakatan tercapai, penerapannya akan dilakukan pada tahun 2020.

Para pengamat mengatakan penundaan kesepakatan ini tidak mengejutkan karena para perunding mencoba mencari kesepakatan yang akan mengarah pada perubahan jangka panjang dalam perekonomian dunia.

Beberapa pegiat tak puas pada rancangan kesepakatan hari Kamis, menyebutnya tak mencerminkan keadilan iklim.

“Negara kaya punya tanggung jawab untuk memastikan kesepakatan yang adil bagi semua, tak hanya bagi mereka,” kata Adriano Campolina dari ActionAid.

Share Button