Hutan hujan Sumatera merupakan salah satu bentang alam Indonesia yang kaya akan ragam fauna. Dari jenis mamalia yang ada di Sumatera, 22 hanya ditemukan di Asia dan tidak bisa dijumpai di belahan dunia lainnya. Sekitar 15 diantaranya merupakan spesies asli Indonesia, termasuk orangutan sumatera.

Satu jenis satwa yang kurang terpublikasikan padahal merupakan satwa endemik pulau Sumatera adalah kambing hutan sumatera. Masih sedikit penelitian mengenai jenis ini sehingga minim akan referensi. Sedikit telaah yang diketahui adalah spesies ini merupakan satu dari enam jenis kambing hutan yang ada di Asia bagian timur.

Kambing Hutan Sumatera atau dalam Bahasa Inggris disebut Sumatran Serow ini merupakan jenis kambing hutan yang hanya ada di hutan tropis Pulau Sumatera. Ciri fisik kambing bernama ilmiah Capricornis sumatraensis sumatraensis ini adalah bertanduk ramping, pendek dan melengkung ke belakang. Berat badannya antara 50- 140 kg dengan panjang badan antara 140-180 cm. Saat dewasa, tingginya mencapai 85-94 cm.

Umumnya, kambing hutan sumatera hidup soliter. Namun begitu, terkadang, ia juga berjalan dalam grup kecil. Sebagaimana harimau, kambing ini juga mempertahankan suatu wilayah dalam hutan untuk digunakannya sebagai tempat mencari makan, berupa dedaunan dan rerumputan, serta tempat tinggal. Nah, untuk menandai suatu wilayah sebagai daerah kekuasaannya maka kambing ini akan mengeluarkan kotoran dan air seni.

Kambing hutan sumatera tentu saja berbeda dengan kambing yang biasa kita ternakkan. Karena, jenis ini merupakan perpaduan antara kambing dengan antelop, jenis yang mirip kambing dengan tanduk tegak lurus. Bahkan, masih memiliki hubungan dekat dengan kerbau.

Kambing ini merupakan satwa yang tangkas memanjat lereng terjal yang biasanya hanya bisa dicapai manusia dengan bantuan tali. Biasanya, hidupnya diketinggian 200 meter dari puncak dataran tinggi di Sumatera atau bukit-bukit kapur. Habitatnya adalah hutan primer dan hutan sekunder yang dekat pegunungan. Mereka aktif pada pagi dan sore hari. Siangnya, istirahat di tempat teduh di bebatuan.

Saat ini, populasinya yang masih tersisa berada di Taman Nasional Kerinci Seblat (Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan) juga dapat ditemukan di Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) yang secara administratif berlokasi di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Provinsi Sumatera Utara dan Taman Nasional Gunung Leuser (Nanggroe Aceh Darussalam).

Awal 2013, warga di sekitar Gunung Sinabung, tepatnya di Desa Beras Tepu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, menemukan seekor kambing hutan sumatera yang keluar dari hutan, karena aktivitas Gunung Sinabung yang terus mengeluarkan erupsi waktu itu.

Menurut keterangan tetua masyarakat yang sudah tinggal turun temurun di desa itu, mereka sama sekali tidak pernah melihat kambing hutan Sumatera. Memang, di alam bebas keberadaan satwa ini semakin langka dan bahkan terancam kepunahan.

International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), memasukkan satwa ini dalam kategori Rentan (Vulnerable/VU). Pemerintah Indonesia juga menetapkan kambing hutan sumatera sebagai salah satu satwa yang dilindungi dari kepunahan berdasarkan PP Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Begitu langkanya satwa ini, sampai-sampai hanya sedikit kebun binatang di dunia yang memiliki koleksi kambing hutan sumatera. Bahkan, di kebun binatang di Indonesia sendiri, sepertinya tidak banyak yang memilikinya.

Masalah utama yang menyebabkan satwa ini langka adalah semakin menyempitnya habitat mereka akibat penebangan liar, alih fungsi hutan, dan perburuan liar. Mereka diburu, baik di area perlindungan ataupun area bebas, untuk dimakan dagingnya sebagai bahan baku obat tradisional. Sementara tanduknya, diperjualbelikan sebagai hiasan. Bahkan, perdagangan tanduk kambing hutan sumatera bisa kita temukan dengan mudah di media online.

Adalah tanggung jawab kita semua untuk memastikan bahwa kekayaan alam Sumatera ini terus lestari dan bukan hanya cerita.

Sumber : Klik di sini

Share Button