Perubahan iklim memang ada dan nyata dampaknya. Mencairnya es di Kutub Utara, yang selama ini begitu dikhawatirkan akibat perubahan iklim, merupakan salah satu kondisi yang sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup di bumi, tak terkecuali kehidupan satwa.

Suhu di Kutub Utara juga dilaporkan telah menghangat dua kali lebih cepat dari rata-rata global. Karena suhu yang hangat tersebut menyebabkan pula lapisan permafrost mencair dan melepaskan karbon dioksida dan gas metana. Lapisan permafrost merupakan lapisan tanah yang membeku secara permanen karena suhu rata-rata tahunan lapisan tanah yang kisarannya dibawah 0 derajat Celcius.

 

Yang mengejutkan, dari sebuah pemodelan yang dilakukan, jumlah kerugian keuangan yang diderita akibat perubahan iklim ini sungguh luar biasa.

Diperkirakan, pada 2200 nanti, dampak ekonomi yang ditimbulkan dari emisi atmosfer tambahan ini akan mencapai angka $ 43 triliun. Jumlah tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh peneliti dari University of Cambridge dan the National Snow and Ice Data Center at the University of Colorado Boulder, dalam sebuah makalah yang diterbitkan September ini di jurnal Nature Climate Change.

Untuk menghitung jumlah kerugian dari emisi Laut Arktik yang berada di Kutub Utara ini, para peneliti menggunakan skenario yang dikembangkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change, yang memprediksi emisi yang disebabkan oleh manusia hingga tahun 2100.

Berdasarkan dari salah satu model skenario itulah para peneliti menghitung potensi kerugian global akibat emisi tersebut dua abad dari sekarang. Sebut saja kerugian di sektor pertanian, meningkatnya biaya kesehatan, hingga membengkaknya tagihan listrik akibat AC yang terus menyala dikarenakan suhu yang makin panas.

 

Bahkan, dengan asumsi bahwa manusia mampu menurunkan emisi hingga tahun 2100 pun, para peneliti tetap memperkirakan total kerugian akibat perubahan iklim sekitar $ 326 triliun menjelang 2200.

Namun, ketika emisi permafrost dimasukkan, angkanya naik drastis menjadi $ 369 triliun. Jumlah ini sangat mengerikan, karena sebanding dengan PDB seluruh negara di dunia pada 2014 ini yang dikalikan lima.

Permafrost di kutub utara mulai mencair karena pemanasan iklim dan melepaskan karbon dari bahan organik yang tersimpan di dalamnya – sekitar 1.700 gigaton-yang tentunya makin menambah emisi atmosfer akibat aktifitas manusia. Terutama, penggunaan bahan bakar fosil.

“Mengurangi emisi bahan bakar fosil dan menghentikan perubahan iklim bukanlah dua pilihan yang mudah untuk dipilih salah satu” jelas Kevin Schaefer dari the National Snow and Ice Data Center at the University of Colorado Boulder.

Menurut Schaefer, dimanapun ketika diskusi tentang perubahan iklim dilakukan, akan terjadi friksi antara mengejar keuntungan ekonomi di satu sisi, dan membuat kebijakan akan perubahan iklim di sisi lain. “Inilah yang membuat kerugian finansial akibat emisi menjadi begitu besar,” ujarnya.

Sumber : klik di sini

Share Button