Seperti yang dilaporkan oleh Globalpost, maka tahun ini genap 100 tahun kematian merpati pengembara terakhir, spesies terakhir dari jenisnya yang berhasil bertahan hidup selama 14 tahun di penangkaran. Tahun lalu, Angalifu, badak putih Afrika yang berumur 44 tahun mati di San Diego Zoo, yang berarti hanya tersisa lima ekor badak putih di seluruh dunia yang semuanya hidup di penangkaran!

Dunia kehilangan puluhan spesies setiap hari dalam apa yang disebut para ilmuwan sebagai ‘kepunahan massal keenam’ dalam sejarah Bumi. Sebanyak 30%-50% dari semua spesies di dunia bergerak menuju kepunahan pada pertengahan abad ini, dan tak ada yang bisa disalahkan kecuali kita sendiri.

“Penghancuran Habitat, polusi atau penangkapan ikan yang berlebihan menghancurkan makhluk dan tanaman liar secara langsung, setidaknya membuat kehidupan mereka sangat rentan” kata Derek Tittensor, seorang ahli ekologi kelautan di World Conservation Monitoring Centre di Cambridge, Inggris. “Masalahnya dalam beberapa dekade mendatang, perubahan nyata seperti perubahan iklim akan semakin jelas menjadi ancaman lebih banyak spesies satwa”

Sekitar 190 negara bertemu bulan lalu di pertemuan iklim PBB di Lima, Peru untuk membahas tindakan yang diperlukan untuk memperlambat kenaikan emisi gas rumah kaca. Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan yang tampaknya tidak akan banyak membantu dalam upaya dunia untuk melawan pemanasan global.

Perdagangan illegal satwa telah menjadi ancaman nyata bagi upaya konservasi satwa-satwa yang dilindungi. Perdagangan satwa liar adalah industri bernilai sekitar $10 miliar per tahun atau berada di urutan perdagangan illegal terbesar kelima di dunia setelah perdagangan narkoba. Permintaan satwa meningkat sebagai hewan peliharaan, hadiah, bahan pengobatan, makanan, fashion, dan produk lainnnya.

Tidak ada keraguan bahwa kita sedang menghadapi perjuangan yang berat melawan keserakahan manusia dan perilaku konsumsi yang tidak berkelanjutan. Namun, tentu saja kita tak boleh kalah dalam pertempuran ini. Mari sejenak berpikir, bagaimana kita akan menjelaskan kepada anak dan cucu kita nanti bahwa pada masa lalu (masa kita sekarang ini) pernah ada hewan-hewan luar biasa yang hidup nyata, seperti harimau, badak, orangutan, dan lain-lain, dan bagaimana kita membiarkan mereka punah? Kita masih mempunyai kesempatan melestarikan satwa-satwa yang berpotensi punah ini, dan kesempatan itu harus kita maksimalkan sekarang juga.

Berikut ini adalah beberapa satwa yang paling terancam punah di planet ini yang mungkin kita harus mengucapkan selamat tinggal pada mereka tahun ini.

Macan Tutul Amur. Satwa ini diburu secara massif untuk diambil kulitnya yang berbulu indah, Macan Tutul Amur (Panthera pardus orientalis) adalah salah satu kucing besar paling langka di dunia. Satwa yang ini ditemukan di sepanjang daerah perbatasan antara Rusia bagian tenggara dan timur laut China menghadapi perusakan habitat besar-besaran dan hilangnya hewan-hewan mangsanya, juga karena perburuan. Kini hanya sekitar 30 individu macan tutul Amur hidup di alam liar.

Gajah Sumatra. Inilah spesies gajah terkecil Asia, populasinya terus menurun secara mengejutkan, turun sekitar 80 % dalam kurun waktu kurang dari 25 tahun akibat deforestasi, hilangnya habitat dan konflik dengan manusia di pulau Sumatera. Kini hanya tersisa sekitar 2.400 hinga 2.800 individu gajah sumatera yang bertahan hidup di alam liar. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) jantan memiliki gading yang relatif kecil, namun pemburu tetap saja membunuh untuk diambil gadingnya dan menjualnya di pasar gelap yang menyebabkan rasio antara jantan dan betina sangat tidak seimbang untuk membuatnya mampu mempertahankan kelangsungan hidup spesies asli pulau Sumatera ini.

Badak Bercula Satu. Spesies badak bercula satu yang hidup di hutan tropis, badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) sejak masa kolonial hingga paruh abad lalu merupakan spesies yang paling diburu untuk diambil culanya yang berharga mahal. Dengan hanya menyisakan sekitar 58 individu yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon di Jawa, spesies ini sangat rentan terhadap kepunahan karena bencana alam, perburuan, penyakit dan keragaman genetik yang rendah.

Penyu Belimbing. Inilah spesies penyu laut terbesar di dunia dan salah satu yang paling sering bermigrasi. Populasi penyu belimbing (Dermochelys coriacea) telah sangat menurun dalam beberapa tahun terakhir karena perburuan, terkena jaring nelayan tanpa sengaja, memakan sampah plastik, perburuan telurnya, hingga hilangnya habitat dan perluasan pembangunan kawasan pesisir yang merusak pantai tempat penyu bertelur.

Gorilla Daratan Rendah. Meskipun berburu dan membunuh spesies ini adalah ilegal, gorilla dataran rendah (Gorilla gorilla gorilla) ini terus dibunuh untuk diambil dagingnya yang dianggap lezat, sementara bayi-bayi mereka ditangkap dan disimpan sebagai hewan peliharaan. Virus Ebola yang mematikan juga telah menghancurkan populasi kera liar ini. Di hutan Minkébé di Gabon saja, virus ini telah membunuh lebih dari 90 persen populasi gorilla dan simpanse di kawasan itu.

Harimau Siberia. Juga dikenal sebagai harimau amur, harimau siberia (Panthera tigris altaica) adalah kucing terbesar di dunia. Satwa ini diburu untuk digunakan sebagai bahan baku pengobatan tradisional China. Perburuan, pertambangan, kebakaran hutan, penegakan hukum yang buruk, kerusakan hutan dan pembalakan liar terus mengancam keberadaan spesies ini. Diperkirakan populasinya kini hanya tersisa sekitar 400 hingga 500 individu di alam liar.

Vaquita. Vaquita (Phocoena sinus) adalah salah satu satwa laut yang benar-benar berada ambang kepunahan dengan populasi kurang dari 100 individu yang tersisa di dunia. Inilah satwa paling laut paling langka.

Ditemukan di Teluk California, satu dari setiap lima vaquita terjerat dan tenggelam oleh pukat yang dilempar untuk menangkap spesies lain yang juga terancam punah, totoaba yang insangnya berharga sangat mahal, sekitar $4.000/pon.

Saola. Dikenal sebagai unicorn Asia, saola (Pseudoryx nghetinhensis) sangat jarang terlihat di alam liar, dan satwa ini tidak ada di penangkaran. Populasi saola saat ini diperkirakan hanya tersisa dalam hitungan puluhan ekor saja. Saola terus diburu untuk memasok kebutuhan bahan baku obat tradisional di Cina dan dijadikan konsumsi di Vietnam dan Laos. Hewan ini juga dibunuh untuk diambil tanduknya untuk hiasan rumah di kedua negara tersebut. Saola dalam Bahasa lokal berarti “hewan yang sopan”, sangat jinak pada manusia, sehingga sangat mudah diburu. Hilangnya habitat dan keragaman genetik yang terus berkurang juga mengancam spesies yang memang sudah diambang kepunahan ini.

Gorilla Gunung. Gorilla gunung (Gorilla beringei beringei) ditemukan di pegunungan perbatasan Uganda, Rwanda dan Republik Demokratik Kongo, dan di Taman Nasional Bwindi yang tak boleh dimasuki di Uganda. Perburuan, perusakan habitat, penyakit dan produksi arang telah menghancurkan habitat gorilla dan hanya meninggalkan sekitar 880 individu yang berjuang untuk bertahan hidup di alam liar.

Lemur Bambu Besar. Ditemukan di bagian tenggara Madagascar, lemur bambu besar (Prolemur simus) adalah spesies lemur paling langka yang ditemukan di Madagascar. Populasinya kurang dari 60 individu di alam liar dan tidak lebih dari 150 individu di pusat-pusat penangkaran. Perubahan iklim, pembalakan liar, perburuan dan berkurangnya bambu secara drastis telah membuat satwa langka ini kemungkinan tidak bertahan lebih lama lagi di alam liar.

Orangutan Sumatera. Habitat orangutan sumatera (Pongo abelii) terus mengalami pengurangan dalam tingkat yang mengerikan karena kebakaran hutan, pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, pembalakan liar dan pembangunan pertanian lainnya. Hal ini sangat membuat spesies ini begitu terancam. Selain habitatnya yang dirusak, satwa ini juga diburu atau ditangkap hidup-hidup dan menyebabkan penurunan populasi secara drastis. Diperkirakan tak lebih dari 7.300 individu yang tersisa di alam liar.

Badak Hitam Afrika. Selama masa kolonial, badak hitam (Diceros bicornis) dibunuh hampir setiap hari untuk karena culanya yang bernilai tinggi di pasar gelap, atau diambil dagingnya untuk dikonsumsi, atau sekedar untuk olahraga. Spesies ini adalah salah satu kelompok mamalia tertua di dunia dan dianggap sebagai atraksi pariwisata terpenting di banyak negara Afrika.

Sayangnya, upaya konservasi yang gencar dilakukan menghadapi kendala yakni perubahan habitat dan peningkatan perburuan yang disebabkan masih tingginya tingkat kemiskinan masyarakat setempat yang diikuti dengan meningkatnya permintaan pasar gelap untuk cula badak dari Asia. Diperkirakan hanya 4.848 individu yang tersisa di seluruh dunia.

Lumba-Lumba Tak Bersirip Yangtze. Dikenal sebagai “panda air raksasa”, lumba-lumba yang bernama ilmiah Neophocaena phocaenoides ini adalah makhluk cerdas yang paling terkenal yang ditemukan di Sungai Yangtze, sungai terpanjang di Asia.

Karena penangkapan yang berlebihan, penurunan pasokan makanan, polusi dan perubahan kondisi sungai akibat pembangunan dam dan bendungan, populasi lumba-lumba ini terus menurun dan kini diperkirakan hanya tersisa 1.000 sampai 1.800 individu saja di alam liar. Sepupu dekat lumba-lumba ini, yakni lumba-lumba baiji, telah dinyatakan punah akibat aktivitas manusia.

Sumber : klik di sini

Share Button