Dr. Henry Bastaman, Kepala Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI-KLHK) berkomitmen untuk serius dan konsisten melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan restorasi ekosistem. Hal ini disampaikan pada saat memberikan sambutan pada acara Seminar Internasional “Memperkuat pengelolaan dan Implementasi Kebijakan Restorasi Ekosistem di Indonesia: Pembelajaran dari Lapang dan Negara Lain” di ICC Bogor, Senin (31/08).

“Selama ini, Badan Litbang dan Inovasi selalau memberi perhatian serius dan secara konsisten melakukan kegiatan litbang restorasi hutan baik pada hutan produksi maupun kawasan konservasi”, kata Henry.

Henry menyatakan bahwa telah banyak hasil litbang yang telah dihasilkan oleh Pusat Litbang hutan, salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) BLI-KLHK (dahulu bernama Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi/Puskonser) maupun UPT BLI lainnya yang ada di daerah. Diantaranya berupa input kebijakan, naskah akademik dan draf peraturan di bidang pengelolaan dan silvikultur restorasi ekosistem, strategi dan kriteria penentuan lokasi strategis restorasi ekosistem, serta beberapa kegiatan alih teknologi bidang persemaian jenis pohon lokal serta inokulasi gaharu.

“Kami juga telah menjalin kerjasama litbang konservasi hidupan liar dan habitatnya dengan yayasan Burung Indonesia. Dan juga kerjasama teknis di bidang restorasi ekosistem dengan PT. Restorasi Ekosistem Indonesia,”kata Henry.

Henry sadar bahwa ke depan masih banyak tantangan dan permasalahan yang komplek terutama terkait pengelolaan IUPHHK-RE. Oleh karena itu, Henry berharap bahwa kegiatan litbang restorasi ekosistem dan kerjasama dengan pengelola diharapkan terus berlanjut.

Terkait IUPHHK-RE, Ir. Bambang Hendroyono, MM, Sekretaris Jenderal KLHK menyatakan bahwa sejak tahun 2004 KLHK telah mengeluarkan kebijakan pengelolaan hutan produksi (HP) melalui IUPHHK-RE. Harapannya bahwa HP dapat dikelola untuk pemanfaatan berbagai hasil hutan (kayu, HHBK, jasa lingkungan dan ekowisata), asalkan keseimbangan hayati dan ekosistemnya telah tercapai.

“Hingga saat ini, lebih dari 550 ribu hektar hutan produksi telah dikelola melalui IUPHHK-RE. Pemerintah juga telah mengalokasikan 1,7 juta hektar kawasan hutan produksi untuk restorasi ekosistem, “kata Bambang.

Prof. Herry Suhardiyanto, Rektor IPB berharap bahwa kebijakan terkait restorasi ekosistem dapat memacu pembentukan model pengelolaan pengelolaan hutan ke depan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, riset, pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan bisnis.

“Untuk mewujudkan hal tersebut masih diperlukan dukungan publik dan para pihak untuk menjamin keberhasilan dan mengawal implementasi kebijakan restorasi ekosistem tersebut,”kata Herry.

Mendukung hal tersebut, Prof. Ani Mardiastuti, Ketua Dewan Burung Indonesia menyatakan bahwa saat ini Burung Indonesia telah melakukan mainstreaming restorasi ekosistem ke berbagai pihak, baik ke akademisi, lembaga riset pemerintah, NGO, jurnalis lingkungan dan para pemegang izin.

Ani berharap dengan adanya seminar internasional ini akan terjalin diskusi dan sharing informasi mengenai implementasi pengelolaan restorasi ekosistem di lapangan baik dari Indonesia maupun negara lain guna menjawab tantangan yang muncul dan memberikan rekomendasi untuk penguatan kebijakan dan pengelolaan restorasi ekosistem di Indonesia.

Seminar internasional bertemakan restorasi ekosistem ini merupakan seminar pertama kali di Indonesia atas kerja sama BLI-KLHK, IPB, Burung Indonesia, dan dukungan dari United States Forest Service (USAID).

Sumber : forda-mof.org

Share Button