Hutan mangrove Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur, selalu ramai dikunjungi berbagai kelompok atau perusahaan yang mengadakan acara penanaman pohon mangrove. Namun, penanaman mangrove baru sekadar awal. Pemeliharaan menjadi sangat penting ketika sampah dan pencemaran sungai terus mengancam mangrove yang ditanam.

Data Dinas Pertanian Kota Surabaya menyebutkan, setidaknya ada lima acara penanaman mangrove setiap bulan yang dilakukan komunitas, mahasiswa, pelajar, dan perusahaan. Jumlah pohon mangrove yang ditanam dalam setiap acara ratusan hingga ribuan batang.

Acara penanaman pohon mangrove salah satunya digelar Keuskupan Surabaya dan diikuti sekitar 2.400 umat Katolik, Selasa (2/6) pagi. Selain menanam mangrove, peserta sekaligus berolahraga karena mereka harus berjalan kaki 2,5 kilometer untuk sampai ke lokasi penanaman.

“Acara ini merupakan pemicu untuk mengadakan kegiatan pelestarian mangrove,” kata Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono. Kegiatan ini merupakan keinginan umat Katolik di Keuskupan Surabaya dan dirancang sejak satu tahun sebelumnya. Mereka berkomitmen untuk tetap memantau mangrove yang mereka tanam.

Ancaman lingkungan

Hutan Mangrove Wonorejo seluas 800 hektar itu belumlah aman dari berbagai ancaman. Saat ini, hutan itu terancam serbuan sampah plastik yang melilit batang pohon mangrove dan juga limbah domestik yang terbawa arus Kali Wonorejo. Melihat ancaman lingkungan itu, sebagian warga Surabaya tergerak untuk ikut menjaga kawasan mangrove, dengan cara mereka masing-masing.

Sampah-sampah plastik itu banyak yang berserakan di rerimbunan pohon mangrove di sekitar muara Kali Wonorejo. Sampah itu sebagian besar berupa bekas bungkus makanan ringan, tas keresek, dan botol minuman. Arus Kali Wonorejo membawa sampah-sampah itu dari daerah permukiman. Kepala Dinas Pertanian Kota Surabaya Joestamadji mengatakan, saat ini area mangrove di Wonorejo yang rusak karena sampah seluas 2,5 hektar.

Komunitas Nol Sampah Surabaya adalah komunitas pencinta lingkungan yang rutin membersihkan sampah-sampah di kawasan hutan mangrove itu. Minimal, komunitas itu memunguti sampah plastik dua kali setiap bulan, bersama kelompok mahasiswa atau pencinta lingkungan lain.

Setiap kegiatan pembersihan sampah, rata-rata diikuti sampai 60 orang. Mereka turun ke area mangrove di muara Kali Wonorejo pada pagi hari sebelum air laut pasang. Sampah yang mereka pungut lalu dimasukkan ke kantong plastik. Dalam satu kesempatan, mereka dapat mengumpulkan hingga 10 karung plastik sampah. Setiap karung berisi hingga 5 kilogram sampah plastik. Setelah terkumpul, sampah plastik itu didaur ulang.

content

“Melihat jumlah peserta kegiatan, sulit untuk membersihkan sampah secara tuntas,” kata Koordinator Komunitas Nol Sampah Surabaya, Hermawan Some. Namun, inti dari kegiatan itu adalah edukasi bahwa sampah plastik, meskipun terlihat sederhana, dapat mematikan pohon mangrove. Mangrove yang sudah ditanam banyak orang itu pun tak mati percuma.

Sampah plastik melilit batang mangrove dalam waktu lama karena sifat plastik yang sulit terurai. Akibatnya, batang mangrove akan tertutup sampah itu sehingga sulit untuk berkembang. Melalui aksi membersihkan kawasan mangrove itu, peserta diharapkan sadar dan mengubah kebiasaan untuk tidak membuang sampah plastik sembarangan.

Limbah domestik

Selain sampah, limbah domestik dari rumah tangga berupa sisa air cucian yang mengandung sabun dan detergen ikut mengalir ke Kali Wonorejo. Ancaman limbah domestik tidak kalah berbahaya dari sampah karena cepat mematikan mangrove, terutama yang anakan.

Indikasi pencemaran limbah domestik terlihat ketika Kali Wonorejo mengeluarkan busa tebal. Busa muncul dan memenuhi permukaan sungai karena pompa di Rumah Pompa Wonorejo dioperasikan. Detergen di dasar sungai teraduk dan memicu munculnya busa.

Tidak hanya mematikan tanaman mangrove, limbah domestik ini juga mematikan sebagian besar udang yang dibudidayakan para petani di sekitar Kali Wonorejo. Bandeng yang dipelihara di tambak yang sama pertumbuhannya lamban.

Berdasarkan kondisi itu, aktivis lingkungan mangrove, Lulut Sri Yuliani, mencoba membuat alternatif sabun dan detergen yang ramah lingkungan. Ia memakai tanaman mangrove dan tanaman obat sebagai bahan dasar pembuatan sabun dan setelah meneliti sejak tahun 2003, upayanya berhasil tahun 2005. Semua itu dilakukan otodidak dengan membaca berbagai jurnal dan studi banding.

Ada empat jenis sabun dari mangrove yang diberi nama Sirvega (sabun cair mangrove dan toga), yaitu sabun untuk mencuci rambut (sampo), sabun untuk mencuci kain batik dan sutra, sabun untuk mengepel lantai, dan sabun untuk mencuci tangan, piring, dan kendaraan. Setiap botol sabun yang berisi 350 mililiter (ml) dijual Rp 20.000 dan setiap botol pembersih lantai berisi 300 ml dijual Rp 6.000.

“Sabun atau detergen dari mangrove ini tidak membahayakan lingkungan karena semua bahannya alami,” kata Lulut, di Surabaya, Rabu (20/5).

Bahan yang dipakai adalah buah mangrove, garam, jeruk nipis, dan tanaman lidah buaya. Lulut menganjurkan untuk menggunakan limbah air detergen mangrove itu untuk menyiram tanaman lain di rumah.

Bersama Koperasi Griya Karya Tiara Kusuma yang didirikannya, Lulut memproduksi sabun-sabun itu dalam skala industri rumahan. Setiap pekan setidaknya dapat dihasilkan 200 botol untuk keempat jenis itu.

Selama ini, sabun-sabun itu dijual di pusat pameran kerajinan tangan. Selain terjual ke daerah lain di Jatim, beberapa produk itu terjual ke Singapura Malaysia, Belanda, Amerika Serikat, dan Jepang. Lulut berencana menguji mutu produk sekaligus merancang mesin supaya produksi jauh lebih banyak.

Kepala Dinas Pertanian Kota Surabaya Joestamadji mengatakan, Dinas Pertanian Kota Surabaya fokus memberdayakan masyarakat untuk terus menjaga kawasan mangrove. “Kami membuka peluang semua masyarakat untuk ikut menanam mangrove di Wonorejo supaya semakin banyak orang yang memantau mangrove. Pasti mereka penasaran dengan perkembangan mangrove yang mereka tanam,” katanya.

Sumber : klik di sini

Share Button