Display Publikasi Balitek KSDA di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Balikpapan

Balitek KSDA (Balikpapan, 09/08/2018)_Untuk menyebarluaskan data dan informasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan teknologi konservasi sumber daya alam kepada masyarakat luas, Balitek KSDA bekerjasama dengan PT. Angkasa Pura I memasang display publikasi di Gate 3, Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Balikpapan sejak Selasa, 31 Juli 2018.

Ahmad Gadang Pamungkas, S.Hut., M.Si, Kepala Balitek KSDA berharap bahwa display publikasi ini mampu memperkenalkan Balitek KSDA dan KLHK kepada masyarakat luas. Selain itu juga sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat atas kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi Konservasi Sumber Daya Alam.

Mengapa dipilih Bandara SAMS? “Bandara SAMS dipilih karena merupakan ruang publik

bertaraf internasional, menjadi salah satu simpul mobilitas manusia dari dan ke seluruh Indonesia, serta berlokasi paling dekat dengan Balitek KSDA”, kata Taufiqurrohman, S.Hut, MPA Kepala Seksi Data, Informasi dan Sarana Penelitian Balitek KSDA.

Hal tersebut selaras dengan yang disampaikan General Manager PT Angkasa Pura I Handy Heryudhityawan pada saat koordinasi rencana pemasangan display beberapa waktu sebelumnya. “Bandara bisa diibaratkan sebuah panggung terbuka dimana ada ribuan penonton yang datang tanpa perlu kita undang, sehingga sangat efektif sebagai sarana untuk menyebarluaskan informasi.”

Display yang dipasang merupakan instalasi berupa neon box dan panel berbagai jenis kayu dengan ukuran panjang 5,2 m, lebar 2,4 m, dan tinggi 4,5 m dihiasi dengan pohon dan bunga-bunga. Pada neon box ditampilkan logo PT Angkasa Pura, logo Balitek KSDA, serta para mitra kerjasama Balitek KSDA. Sedangkan pada papan panel dipamerkan materi publikasi antara lain video berbagai kegiatan penelitian, video Herbarium Wanariset, video orangutan, video bekantan, poster digital, buku, leaflet, booklet, souvenir, buah ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. et Binn), jenis-jenis buah dipterocarpa, poster penelitian tumbuhan obat, poster reklamasi tambang batubara, poster satwa primata Kalimantan dan poster potensi keanekaragaman hayati Hutan Wartono Kadri, gambar spesimen tumbuhan, gambar spesimen hewan.

Waktu pemasangan display direncanakan selama tiga bulan yaitu Agustus s.d. Oktober 2018 dengan lokasi berbeda di terminal Bandara SAMS.

Bagi sahabat konservasi yang sedang di ruang tunggu bandara SAMS silahkan mampir dan berselfie ria.

BUKA BERSAMA KELUARGA BESAR BALITEK KSDA SAMBOJA

Rabu 30 mei 2018, bertepatan dengan malam ke 15 bulan Ramadhan tahun ini keluarga besar Balitek KSDA mengadakan kegiatan buka bersama. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh karyawan/wati beserta keluarga dan karyawan dari Yayasan Jejak Pulang. Acara dimulai pada pukul 17.30 wita di awali dengan tausiyah ramadhan yang disampaikan oleh bapak drh. Amir Ma’ruf, salah satu peneliti di kantor balitek KSDA.

Dalam tausiyahnya, Amir menyampaikan bahwa bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah, mahfirah dan penuh ampunan. Dalam bulan tersebut membuka banyak kesempatan untuk beramal sholeh serta bersedekah yang dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT. Namun, dalam mengerjakan ibadah terutama dibulan ramadhan harus dilakukan dengan tulus dan ikhlas hanya mengharap ridho Allah SWT sehingga ibadah puasa kita akan mendatangkah berkah serta pahala yang  berlimpah aamiin.

Selain tulus dan ikhlas dalam beribadah, bakti terhadap orang tua juga akan membawa keberkahan hidup dunia dan akhirat, karena ridho orang tua adalah ridho Allah juga“ lanjutnya di penghujung tausiyah.

Acara tausyiah dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh bapak Zainal Arifin. Tidak lama berselang adzan magrib dikumandangkan, tanda waktu berbuka telah tiba. Selepas bersantap ta’jil buka puasa, kemudian sholat magrib berjama’ah di pimpin oleh bapak Kepala Balai sebagai imam. Selepas sholat magrib, makan besar berbuka serta berbagi hidangan yang begitu nikmat telah menanti. Semua menu tersebut dipersiapkan sendiri oleh Ibu-ibu pegawai dan Darmawanita Balitek KSDA.

Walaupun tidak dilanjutkan dengan sholat tarawih bersama tapi kebersamaan buka puasa bersama kali ini sangat berkesan. Acara buka puasa adalah salah satu moment untuk saling bersilaturahim dengan penuh dengan keakraban dan kekeluargaan.

 

Founder and President Four Paws International Meninjau Sekolah Hutan – Orangutan Research Center Samboja

Heli Dungler, Founder and President of Four Paws International berkunjung ke Sekolah Hutan Orangutan di KHDTK Samboja pada kamis, 17 mei 2018. Dungler datang bersama dengan rombongan didampingi oleh tiga pihak penggagas ORC yaitu Balitek KSDA (Ahmad Gadang Pamungkas, S.Hut, M.Si), BKSDA r (Ir. Sunandar Trigunajasa) dan Hery Estaman (Yayasan Jejak Pulang).Kalimantan Timur (Ir. Sunandar Trigunajasa) dan Hery Estaman (Yayasan Jejak Pulang). Ia ingin melihat secara langsung bagaimana aktifitas Orangutan Research Center (ORC).

Four Paws adalah organisasi internasional berpusat di Wien Austria, yang konsern dengan isu kesejahteraan satwa (animal welfare) di berbagai negara. Di Indonesia, Four Paws menjadi donor utama aktifitas Yayasan Jejak Pulang.

Sampai saat ini ORC telah merawat 8 individu bayi orangutan dari berbagai tempat di Kalimantan Timur. Semua orangutan rehabilitant tersebut sudah tidak mempunyai induk yang disebabkan oleh perburuan atau konflik dengan manusia.

“Mr Heli Dungler datang meninjau apa saja kegiatan yang telah dilakukan di Jejak Pulang yang bekerjasama dengan Balitek KSDA dan BKSDA. Dia juga ingin melihat bagaimana program rehabilitasi dan reintroduksi orangutan di Jejak Pulang dikelola,” Ungkap dr Signe Preuschoft.

Kepala BKSDA mengapresiasi Four Paws dengan membantu penyelamatan satwa di kaltim melalui Jejak Pulang. “Kami berterimakasih dan apresiasi atas support dan dukungan Four Paws terhadap upaya penyelamatan satwa di kaltim khususnya orangutan. Karena masih banyak hal terkait penanganan satwa liar yang membutuhkan bantuan dari berbagai pihak,” kata Nandar.

Pada kesempatan ini juga diberikan dua penghargaan “Honorary Orangutan Ambassador” kepada Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi dan Justiani Liem atas dukungan dan kepeduliannya terhadap konservasi orangutan khususnya di Yayasan Jejak Pulang.

Opening Ceremony Orangutan Forest School di KHDTK Samboja

Kepala Balitek KSDA, Kepala BKSDA, President Four Paws International dan Pembina Yayasan Jejak Pulang secara bersama-sama melakukan gunting pita sebagai tanda diresmikannya Orangutan Forest School di KM 7 KHDTK Samboja. Pembukaan ini menandai kesiapan fasilitas sekolah hutan bagi orangutan rehabilitan. Fasilitas yang telah dibangun itu antara lain Portacamp yang berfungsi sebagai klinik, gudang buah, kamar bayi orangutan, serta ruang teknisi. Selain itu juga telah dibangun pos pengamanan, rumah pengolahan kompos, dan kandang. Beberapa fasilitas lain masih dalam proses pengerjaan.

Orangutan forest school ini merupakan kawasan KHDTK Samboja yang dialokasikan sebagai tempat pendidikan dan rehabilitasi bagi individu orangutan secara langsung di alam. Luas area tersebut ialah 130 Ha dengan didukung 2 orang dokter hewan, 1 orang tenaga ahli perilaku satwa, 1 orang ahli biologi, 15 orang teknisi, dan disupport oleh 30 orang tenaga pengamanan sebagai pengelolanya.

“Peresmian ini merupakan langkah maju penuh optimis dalam jejaring kerjasama Balitek KSDA, BKSDA Kalimantan Timur dan Yayasan Jejak Pulang untuk Program Pusat Penelitian Orangtuan/Orangutan Research Centre (ORC) di KHDTK Samboja.  Sebuah wahana yang bukan hanya sangat bermakna untuk konservasi orangutan, akan tetapi juga sebuah kesempatan besar untuk menghasilkan peneliti Indonesia yang ahli di bidang konservasi orangutan,” kata Ahmad Gadang Pamungkas Kepala Balitek KSDA Samboja.

Jejak Pulang menyampaikan komitmennya untuk melaksanakan kegiatan rehabilitasi orangutan dan menjaga keamanan sekolah hutan. “Kami sekuat tenaga menjaga keamanan Kawasan sekolah hutan orangutan dari berbagai ancaman dengan menyiapkan tenaga pengamanan 24 jam. Kami juga memberlakukan non-contact policy bagi bayi orangutan demi keberhasilan program rehabilitasi orangutan,” Ungkap Signe Preuschoft ahli perilaku satwa ini.

Selama ini, bayi orangutan ditempatkan di kandang karantina yang berada di Arboretum Balitek KSDA. Setiap hari orangutan rehabilitant harus diangkut untuk menuju lokasi sekolah hutan di KM 6 dengan ditemani teknisi. Setiap individu bayi orangutan membutuhkan waktu sekitar 5-7 tahun untuk siap mandiri dan kembali dilepasliarkan di alam. Perbedaan durasi ini tergantung pada kondisi kesehatan dan kemampuan masing-masing individu. Kompetensi minimal yang diajarkan di sekolah hutan orangutan ini antara lain pengetahuan tentang pakan, bagaimana memperoleh pakan, kemampuan memanjat, membuat sarang, serta mengenali berbagai bahaya.

Dengan tersedianya fasilitas di KHDTK Samboja, para bayi orangutan dapat langsung beraktifitas di lokasi sekolah hutan tanpa perlu mobilisasi. Hal ini akan dapat mengurangi frekuensi perjumpaan orangutan dengan manusia, sehingga mempercepat proses pendidikan orangutan untuk dapat tumbuh secara alami menyerupai kondisi alamiahnya di hutan.

Evakuasi Ular Sanca Batik di Arboretum Balitek KSDA

Balitek KSDA, 10 Mei 2018

Kamis malam (10 Mei 2018), petugas pengamanan yang sedang melakukan patroli Orangutan Research Center dikejutkan adanya ular sanca batik (Python reticulatus) yang melintas di lokasi kandang karantina orangutan di Arboretum Balitek KSDA.

Menurut dokter hewan Yayasan Jejak Pulang, drh. Anne, ular tersebut belum lama berganti kulit dan sedang mencari mangsa. Hal ini terlihat dari kenampakan kondisi kulit yang sangat bagus serta agresivitas gerakannya. “Ular ini belum lama berganti kulit dan oleh karenanya dia butuh mangsa untuk mengembalikan tenaganya. Selain itu, terlihat gerakannya yang agresif menunjukkan bahwa dia lapar.” Kata drh Anne.

Upaya penangkapan ular berjalan cukup lama karena keterbatasan alat dan kondisi gelap. Akhirnya dengan melibatkan beberapa orang, ular berhasil diamankan. Ular tersebut kemudian dilepaskan di Tahura Bukit Soeharto yang jauh dari kawasan pemukiman warga. Ular dengan ukuran diameter 20 cm dan panjang 5 meter itu sudah berbahaya bagi manusia. Meskipun tidak berbisa, namun kekuatan lilitan otot ular sanca dewasa mampu melumpuhkan seorang manusia dewasa dan memangsanya.

Evakuasi satwa liar ini bukan pertama kalinya dilakukan oleh Balitek KSDA dan Jejak Pulang. Pada 19 Maret 2018 lalu, tim Forest Ranger ORC membantu melepaskan beruang muda yang terkena jerat babi hutan yang dipasang warga di KM 7. Kemudian pada 30 Maret 2018, tim peneliti Balitek KSDA juga mengamankan buaya muara yang masuk pemukiman warga di Teluk Pemedas Kecamatan Smaboja dan diserahkan ke BKSDA Kaltim. Terakhir, pada 25 April 2018 tim Jejak pulang mengevakuasi seekor individu bekantan yang berada di persawahan warga di KM 30 Kelurahan Karya Merdeka ke Habitatnya di Sungai Hitam Samboja.

 

Kunjungan Peserta Temu Pecinta Alam se-Kaltim XVI di Balitek KSDA

Jumat malam, 4 Mei 2018 Balitek KSDA menerima kunjungan pecinta alam se-Kalimantan Timur. Mereka adalah para peserta kegiatan Temu Pecinta Alam se-Kalimantan Timur XVI (TPA XVI) yang diselenggarakan oleh Himpunan Pecinta Alam Politeknik Balikpapan selama 3 hari dari Jumat sampai Minggu (4-6 Mei 2018).

Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan secara bergilir oleh kelompok pecinta alam sebagai ajang silaturahim, saling berbagi informasi, dan menyusun kegiatan aksi komunitas pecinta alam di Kaltim. Para peserta merupakan perwakilan organisasi mahasiswa pecinta alam (Mapala), kelompok pecinta alam (KPA) dan siswa pecinta alam (Sispala).

Jumat malam, peserta dibekali materi kelas antara lain pengenalan profil Balitek KSDA, pengenalan tumbuhan berkhasiat obat Kalimantan, herbarium, dan teknik pengamatan satwa menggunakan kamera trap yang disampaikan oleh peneliti dan teknisi Balitek KSDA dengan suasana santai. Para peserta mendengarkan dengan antusias paparan yang disampaikan para pemateri dan berharap mendapatkan wawasan yang baru dari kunjungan ke Balitek KSDA. “Panitia sengaja memilih Balitek KSDA sebagai lokasi kegiatan karena mempunyai fasilitas penelitian yang jarang ditemui di tempat lain seperti herbarium. Harapannya, para peserta memperoleh pengalaman baru di sini.” Kata Ahmad Ridho, panitia TPA XVI.

Kegiatan hari kedua diisi dengan praktik dan kunjungan lapangan. Para peserta TPA XVI diajak ke Herbarium Wanariset Samboja yang mempunyai koleksi 19.799 nomor specimen dari 3.675 species tumbuhan. Mereka diajari teknik pembuatan specimen herbarium, dari mengambil specimen di lapangan hingga penyimpanan di Gedung Herbarium. Selanjutnya para pecinta alam ini belajar bagaimana membuat bibit tanaman di persemaian. Mereka diajari beberapa perlakuan untuk menyapih bibit anakan dari alam, cara pemeliharaan, hingga bibit siap tanam.

Tujuan kunjungan berikutnya ialah trek Tumbuhan Obat Tri Joko Mulyono di KHDTK Samboja yang mempunyai koleksi 55 jenis tumbuhan berkhasiat obat asli Kalimantan. 50 jenis di antaranya secara alami tumbuh di KHDTK Samboja, sedangkan 5 jenis lainnya diambil dari lokasi penelitian. Selesai trekking di Trek Tri Joko para peserta dibawa ke Air Terjun Katak di dalam KHDTK Samboja untuk berkemah serta melakukan kegiatan pengamatan satwa. Beruntung, kondisi cuaca cukup bagus dan cerah sehingga kegiatan berjalan dengan lancar.