Hari mulai gelap, tapi kabut asap terlihat semakin pekat. Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 20.00 ketika berangkat memulai perjalanan dari Pontianak, Kalbar, menuju Palangkaraya, Kalteng, Minggu (25/10/2015).  Perjalanan dimulai dengan melintasi rute jalur jalan Trans Kalimantan. Jalan yang menghubungkan Kalimantan Barat dengan Kalimantan Tengah secara paralel, melewati sejumlah kabupaten. Sengaja memilih waktu perjalanan di malam hari, dengan harapan asap mulai berkurang.

Benar saja, diawal perjalanan dari Pontianak melewati Ambawang (Kabupaten Kubu Raya) hingga ke penyeberangan Sungai Kapuas di Desa Piasak, Kecamatan Tayan, Kabupaten Sanggau, perjalanan masih lancar, dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Kabut asap tipis tak terlalu berpengaruh dalam perjalanan dari Pontianak menuju Tayan. Namun, kondisi air sungai yang surut membuat akses turun dari bibir sungai menuju kapal ferry penyeberangan harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.  Adrenalin terpacu ketika roda mobil diarahkan mengikuti panduan petugas saat melewati dua bilah titian yang terpisah selebar setengah meter, dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Meleset sedikit saja, upaya menuruni titian sepanjang 15 meter tersebut, sudah bisa dipastikan mobil akan tercebur ke Sungai Kapuas. “Musim kemarau memang seperti ini, bahkan biasanya lebih curam lagi” kata petugas yang memandu dan menarik retribusi ketika mobil berhasil mendarat diatas kapal ferry.

Malam semakin larut. Waktu di arloji saat itu sudah menunjukkan pukul 22.20. Kapal fery pun kemudian melanjutkan perjalanan menuju seberang, setelah muatan penuh oleh kendaraan. Beruntung kami sudah berada di atas ferry, karena, kata petugas jadwal malam itu yang terakhir. Berjalan perlahan, 15 menit kemudian kapal sudah merapat di seberang. Sesekali terdengar suara klakson untuk memberi isyarat kepada kapal-kapal lain yang akan melintas.

Jalur Trans Kalimantan belum seutuhnya terhubung. Masih tersisa proyek pembangunan jembatan Tayan yang melintasi sungai Kapuas. Rencananya, tahun depan jembatan tersebut sudah bisa digunakan dan dilalui kendaraan.

Kabut Semakin Pekat
Setibanya di seberang, perjalanan kembali dilanjutkan. Awalnya, kendaraan masih bisa melaju dengan kecepatan diatas 80 kilometer per jam. Namun, hanya berlangsung sekitar setengah jam. Asap semakin pekat, jarak pandang semakin berkurang. Bahkan, sesekali jarak pandang hanya sebatas jangkauan lampu dekat mobil. Tak lebih dari tiga meter. Mobil pun tak bisa melaju. Perjalanan hanya mengandalkan rambu garis putih dan rambu mata kucing yang terdapat di sepanjang perjalanan.

Hingga memasuki Kecamatan Sandai di Kabupaten Ketapang, kami beristirahat sebentar di pinggir jalan. Mengistirahatkan badan dan mendinginkan mesin kendaraan. Perbekalan pun dikeluarkan, sebuah kompor gas lapangan lengkap dengan satu set nesting siap untuk merebus air. Lima menit kemudian, kopi pun siap untuk diseduh dan dinikmati, lumayan untuk menawarkan rasa kantuk.

Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 01.45 dinihari. Artinya hari sudah berganti. Kabut terlihat sangat pekat saat kami beristirahat. Kendaraan yang melewati jalur tersebut tidak ada satu pun yang melaju. Semua berjalan perlahan melintasi jalan yang sepi. Pukul 02.00 tepat, perjalanan kami lanjutkan. Berjalan perlahan menuju perbatasan Kalbar-Kalteng menyusuri ruas jalan yang sunyi.

Bermalam di pinggir jalan
Melewati Kecamatan Nanga Tayap menuju perbatasan propinsi, kami kembali berhenti. Pilihan berhenti tepat di depan sebuah kios terbuka berukuran sekitar 2×2,5 meter milik warga yang berada di pinggir jalan, namun jauh dari pemukiman. Keputusan untuk berhenti saat itu karena jarak pandang yang masih terbatas. Mata pun sudah ngantuk dan badan terasa lelah, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 04.30. Perlu waktu untuk istirahat.

Saya saat itu bersama Agri Aditya, seorang aktivis lingkungan, memutuskan untuk tidur di kios beralaskan matras dan koran. Sedangkan rekan perjalanan kami satu lagi, Jessica Wuysang, seorang jurnalis foto, beristirahat di dalam mobil. Tepat pukul 06.30 pagi, secara bersamaan dering alarm dari telepon seluler berbunyi dan membangunkan kami. Meski masih terasa kantuk, namun kami harus tetap melanjutkan perjalanan. Perbekalan kembali dikeluarkan. Kopi panas dan makanan ringan menemani untuk sarapan pagi itu.

Perjalanan kami lanjutkan kembali tepat pukul 07.00, Senin (26/10/2015) pagi. 30 menit kemudian kami sudah tiba di perbatasan. Sebuah gerbang besar dengan ornamen khas Dayak menjadi penanda batas masing-masing wilayah propinsi. Sekitar 10 menit kami berhenti diperbatasan untuk melihat aktivitas warga dan mendokumentasikan gambar. Perjalanan kembali dilanjutkan menuju kota Nanga Bulik, ibukota Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.

Menunggu Pasokan BBM
Pejalanan dari perbatasan menuju Nanga Bulik ditempuh sekitar tiga jam. Perkebunan kelapa sawit menjadi pemandangan sepanjang perjalanan. Kabut asap pun menyelimuti sepanjang perjalanan. Nyaris tidak ada jeda. Indikator digital bahan bakar kendaraan hanya tersisa satu balok saat tiba di Nanga Bulik. Tiba di sebuah stasiun pengisian bahan bakar (SPBU), terlihat antrian kendaraan terparkir hingga keluar pagar. Rupanya kendaraan tersebut sengaja diparkir sambil menunggu mobil tangki pengangkut BBM.

Kami memutuskan keluar dari antrian dan mencari rumah makan terdekat. Sekitar pukul 10.15 kami beristirahat di sebuah rumah makan, sambil menungu pasokan BBM tiba. “Biasanya jam 11 siang baru datang mobil tangki nya. BBM dikirim dari Pangkalan Bun, selalu ada setiap hari, dan selalu habis dengan cepat,” ujar pemilik warung tempat kami berhenti. Benar saja, sekitar pukul 11.20 kami kembali ke SPBU. Antrean semakin panjang. Sebuah mobil tangki terlihat baru saja melakukan aktivitas bongkar muat bahan bakar. Beruntung, 15 menit kemudian kami mendapat giliran untuk mengisi bahan bakar. Perjalanan pun kembali dilanjutkan menuju arah kota Sampit.

Asap dan aroma terbakar
Sepanjang perjalanan asap menyelimuti. Mulai dari asap tipis, hingga pekat. Pukul 16.30 kami kembali berhenti dipinggir jalan, sekitar 40 kilometer sebelum memasuki Kota Sampit. Perbekalan pun kembali dikeluarkan untuk ke tiga kalinya. Kondisi asap saat kami berhenti semakin pekat. Jarak pandang hanya berkisar 70-100 meter. Terlihat semua kendaraan yang melintas menyalankan lampu untuk menghindari kecelakaan.

Pukul 17.00 kami melanjutkan perjalanan. Hari mulai gelap saat kami memasuki kota Sampit. Kabut asap terasa pekat menyelimuti kota itu.  Tak lebih dari 15 menit berhenti di bundaran Kota Sampit, perjalanan kembali dilanjutkan. Mobil bergerak perlahan. Kondisi lalu lintas lumayan padat. Sesekali kendaraan harus mengikuti konvoi iringan kendaraan besar seperti truk pengangkut buah sawit dan tangki pengangkut CPO.

Hujan Deras di Palangkaraya
Tepat pukul 22.00, kami tiba di Kota Palangkaraya. Di luar dugaan, hujan deras menyambut kedatangan kami di Bumi Tambun Bungai tersebut. Sebelumnya, sekitar pukul 19.30, hujan juga sempat turun. Namun tak berlangsung lama. Hujan kemudian turun lagi saat kami tiba. Sekitar 10 menit, hujan mulai reda. Selang waktu satu jam kemudian, hujan deras kembali mengguyur, bahkan hingga pukul 24.00.

Perjalanan selama selama 26 jam dari Pontianak menuju Palangkaraya berjalan dengan lancar. Secara umum, waktu tempuh bisa lebih cepat tanpa berhenti. Kondisi jalan juga sangat baik. Aspal hitam terlihat di sepanjang perjalanan. Hanya sesekali menemukan jalan yang bergelombang dan sedang dalam perbaikan. Selebihnya, jalan Trans Kalimantan mulus.

Sumber : klik di sini

Share Button